Menyediakan Barang dan Jasa Teknologi Informasi

Jika Anda memerlukan perangkat IT dan sejenisnya yang murah serta berkualitas seperti Modem internet (GSM), FlashDisk, Mouse Wireless, Harddisk Portable, Tablet, Blackberry, PC, Laptop, Power Bank atau ada masalah komputer, laptop perlu install ulang atau hardisknya rusak…. atau bahkan kantor perlu jaringan LAN dan Internet ?

Dan Anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk memutuskan dan membeli perangkat teknologi yang memuaskan serta layanan purna jual yang menyenangkan.

Solusinya…
1. Kirim e-mail sales@yudisantosa.com untuk konsultasi sebelum memutuskan membeli suatu barang

2. Atau Klik http://yudisantosa.com/shop/

Pribumi dan Non Pribumi

Menarik bagi saya mencermati viralnya istilah pribumi yang akhir-akhir ini menjadi beken.

Kemudian saya mencari artinya supaya jelas apa yang menjadi perdebatan digital citizen …

Menurut KBBI yang saya coba akses di aplikasi Android

Pribumi adalah (n) penghuni asli;yang berasal dari tempat yang bersangkutan;inlander.

Pertanyaan saya, mengapa sebagian menjadi kelihatan kalut dengan istilah pribumi ini ?

Berdasarkan arti di atas, siapapun yang lahir di suatu tempat bahkan negara bukankah sudah otomatis juga bagian dari pribumi itu sendiri.

Lantas mengapa masih dipermasalahkan, saya coba menyimak dengan lebih detail.

Timbul pertanyaan, apakah karena yang mengucapkannya adalah seorang tokoh politik sekaliber nasional yang ada sebagian orang yang kurang senang (sudah risiko orang politik) maka akan diserang dengan sekecil apapun itu caranya.

Wow… menjadi orang politik itu tentu tidak mudah,.. harus pandai memberikan pengertian yang begitu jelas kepada masyarakat. Sebetulnya jika mengambil dari sisi positifnya tentu ini membuat semangat kebangsaan dan nasionalisme yang makin kuat, karena kemerdekaan Indonesia berawal dari perjuangan dan pergerakan nasional dan kemerdekaan itu dibeli dengan harga yang tidak murah.

Oleh sebab itu, elok kiranya bagi masyarakat untuk tidak ikut-ikutan mempolemikkan sesuatu yang menurut saya tidak ada yang perlu diributkan lebih jauh. Berikan kesempatan pemimpin menjalankan amanahnya, nilailah kepemimpinannya dan pertimbangkan untuk memilih/tidak memilih nya lagi berdasarkan prestasi yang telah dilaksanakan.

Bukankah kekuasaan itu ada batasanya…?

Let’s be smart people, and Indonesian will be strong.

Medio Oktober 2017,…

 

Pilkada 2017 yang Fenomenal

Apa kabar saudara ?

Well…., kita lihat sekarang ini betapa masifnya pemberitaan di media massa terutama media sosial yang membawa begitu banyak perubahan terutama opini masyarakat tentang berbagai persoalan, termasuk Pilkada 2017.

Menarik untuk dicermati saat ini, Indonesia memiliki keunikan dengan suku bangsanya, sehingga corak dan perbedaan tentu membawa dinamika yang cukup tinggi.

Sebagai bagian dari masyarakat, saya ingin berkontribusi dalam berpendapat terhadap hiruk pikuknya pesta demokrasi ini. Bukan bermaksud untuk menggurui apalagi memaksakan suatu pandangan dan opini, tetapi lebih kepada mencegah bagaimana jika persoalan ini semakin berlarut dan berpotensi memecahkan persatuan dan kesatuan.

Yang pertama, sebagai umat beragama, tentu saja Indonesia yang berasaskan sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kebebasan umatnya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya sesuai dengan pilihan dan keyakinannya. Terlepas dari saat ini betapa isu ini menjadi begitu hebat membawa perubahan cara pandang seseorang baik terhadap kehidupan sehari-hari maupun kehidupan politiknya.

Bagi yang menyadari politik suatu kebijakan yang dapat mempengaruhi sebagai besar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tatanan kenegaraan, maka masyarakat dilibatkan dalam proses ini dalam suatu pemilu dengan asas Luber dan Jurdil. Penggiringan opini terhadap suatu calon yang merupakan wakil dan bahkan memilih pemimpin menjadi senjata utama dalam mencari dukungan. Tidak salah, karena prinsipnya sales  selalu ada dalam lingkungan kita.

Jika kembali ke belakang melihat sejarah, wakil rakyat di parlemen cukup untuk menentukan pemimpin politik, kali ini tidak demikian. Bahkan suara 1 orang saja hakikatnya akan sangat menentukan, terlepas dari latar belakang, pendidikan, pengetahuan, profesi dan sebagainya. Lantas bagaimana pendidikan politik Indonesia saat ini ? apakah sudah cukup dewasa dalam memilih, apakah sudah cukup pengetahuan dalam memilih atau bahkan kebebasan dalam memilih sudah benar-benar dapat dilaksanakan sungguh-sungguh tanpa intervensi. Bahkan dalam satu keluarga saja tidak boleh ada intervensi karena hak memilih adalah hak pribadi, meskipun secara etika dan moral memilih yang lebih dikenal tentu akan lebih mudah ketimbang memilih yang tidak dikenal, artinya dalam satu keluarga menjadi hilang makna kebebasan dan rahasia karena sudah tentu sewajarnya keluarga mendukung keluarganya sendiri. Jadi menjadi suatu kewajaran pula menurut saya kita memilih yang satu golongan dengan kita saja, karena fitrahnya memang demikian, cobalah lihat ketika dalam perantauan kita akan senang bertemu dengan seperantauan karena merasa senasib sepenanggungan.

Saya bertanya kepada Anda, bagaimana pandangan Anda terhadap saudara yang tidak memilih Anda sebagai wakil rakyat padahal Anda cukup baik terhadapnya ? Apakah tidak ada yang salah pada diri Anda ? Apa yang harus diperbaiki, bisa sikap, perilaku atau sebagainya. Atau Anda memang sudah cukup baik bahkan teramat baik, tapi tetap saja persepsi orang tidak pernah semuanya sama.

Akhirnya, dalam pesta demokrasi kali ini, saya mengajak untuk saudara-saudara taatilah asas asas pemilu yaitu Langsung, Umum Bebas dan Rahasia dengan tidak lupa berlaku jujur dan adil. InsyaAllah integritas dan hasilnya akan mendapat dukungan yang kuat.

Hidup Indonesia, demi masa depan yang lebih baik.

Anies Baswedan: Saya tidak mengira akan diganti

Anies Baswedan tak mau berspekulasi penggantian dirinya sebagai menteri karena adanya tekanan politik terhadap Presiden Joko Widodo
Dua puluh dua bulan menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan punya satu keinginan yang belum terbayar. Yakni berkunjung ke Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya Yogyakarta. “Tiap datang ke Yogyakarta rasanya semua sudah (saya kunjungi). Hanya sini yang belum,” katanya, Kamis (11/8/2016). Hari itu, keinginannya lunas. Di sela kunjungan ke Yogyakarta–usai menjadi pembicara di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta–ia menyempatkan ke kampus di Ngaglik, Sleman itu. Di depan ratusan pegawai ia bicara tentang pendidikan, keragaman suku bangsa, masa kecil dan jabatannya sebagai menteri–yang dikatakannya telah dicukupkan oleh Presiden Joko Widodo. “Kekuatan sebenarnya terletak pada sang aktor. Bukan peran yang sedang dimainkan,” kata Anies mengutip ucapan sastrawan dan pemain teater dunia Konstantin Stanislavsky. Jadi, “jangan kejar jabatan karena jabatan bisa datang dan pergi,” katanya menambahkan. Di sela perjalanannya ke beberapa tempat sebagai pembicara, Anies bersedia menerima Anang Zakaria, kontributor Beritagar.id, untuk wawancara di atas mobil. Hal itu dilakukan mengingat padatnya kegiatan Anies di Kota Gudeg pada Kamis itu. Anies tiba di Yogyakarta pukul 07.20 WIB, dan harus kembali lagi ke Jakarta pukul 13.05 WIB. Selain berbicara di depan mahasiswa UII dan beberapa tempat lain, ia juga menyempatkan diri berdoa di depan pusara ayahnya, Rasyid Baswedan, mantan Wakil Rektor UII Yogyakarta, yang dikebumikan di kompleks pemakaman kampus. Perbincangan berlangsung dua sesi, selama tidak lebih dari satu jam. Pertama dalam perjalanan dari kampus UII ke P4TK Yogyakarta. Kedua, ketika menuju bandara Adisucipto. Sepanjang perjalanan, di mobil ia bicara banyak tentang perombakan kabinet, tawaran jadi calon Gubernur DKI Jakarta, hingga soal gagasan full day school dari Muhadjir Effendy, seorang pegiat pendidikan yang menjadi penggantinya. Berikut kutipannya:
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan selesai diwawancara Beritagar.id di salah satu tempat makan di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan selesai diwawancara Beritagar.id di salah satu tempat makan di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
© Suryo Wibowo /Beritagar.id

Banyak orang tak mengira Anda terkena perombakan kabinet. Bagaimana tanggapan Anda? Kalau ditanya bagaimana saya juga tidak tahu. Saya juga tidak mengira dan tidak dengar kabar-kabar (reshuffle). Biasanya media malah lebih cepat dengar, tapi (kali) ini kan sama sekali tak ada yang tahu. Anda bertanya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) apa alasan Anda diganti? Saya tidak tanya. Sama sekali tidak. Saya analogikan saya ini adalah senopati. Senopati itu dikirim tugas harus siap, ditarik dari tugas pun juga siap. Bukankah Anda tidak masuk dalam menteri dengan rapor merah… Serapan anggaran Kemendikbud itu nomor dua paling tinggi. Artinya program berjalan. Kemudian soal audit, kami itu berstatus WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Lalu kami juga di posisi B plus atau A minus dalam kinerja kementerian. Jadi termasuk tinggi semua. Dalam opini masyarakat pun Kemendikbud termasuk paling tinggi. Lalu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap menterinya juga paling tinggi di antara menteri lain lho. Ya kalau lihat angka-angka (kami) memang tinggi. Anda merasa kecewa? Kita jangan bicara rasa. Kita sedang bicara dalam sebuah negara yang memiliki struktur. Ada pembagian wewenang. Ketika kepala negara memutuskan untuk cukup sampai di situ tentu ia punya pertimbangan. Saya justru menghormati Pak Presiden dengan hak prerogatifnya. Beliau adalah kepala negara dan kepala pemerintahan. Saya adalah anak buahnya. Begitu ada perintah saya jalankan. Itu namanya disiplin organisasi. Tapi Anda terbilang orang dekat Jokowi, bahkan sudah bersamanya sebelum jadi Presiden… Saya ini menjalankan tugas dengan senang hati. Apakah saya siap? Saya siap. Apakah saya mengira (akan diganti)? Saya tidak mengira. Tapi saya tidak mau kecewa. Jalani saja. Saya harus siap dengan keputusan apapun yang dibuat Pak Presiden. Tidak kecewa namun terkejut karena Anda merasa tidak akan diganti? Mengejutkan. Tapi saya memilih siap untuk menjalani. Semua teman-teman tahu bahwa saya biasa dan tenang saja. Mulai dari berangkat ke Istana, bertemu Presiden, kemudian pulang dari Istana. Silakan tanya saja sama yang ikut satu mobil dengan saya. Kapan Anda diberitahu Presiden? Kira-kira jam 7 malam (sehari sebelum reshuffle). Saya dipanggil dan hari Rabu sudah serah terima (jabatan). Apa yang dibicarakan dengan Presiden saat pemanggilan itu… Kronologinya begini. Selasa malam saya ditelepon ajudan Pak Jokowi untuk datang ke Istana. Sampai Istana saya bertemu Pak Menteri Sekretaris Negara (Pratikno) dan Pak Menteri Sekretaris Kabinet (Pramono Anung). Mereka ditugasi menyampaikan ke saya bahwa Pak Presiden akan melakukan reshuffle dan salah satu yang direshuffle adalah saya. Keduanya lalu menanyakan apakah saya punya aspirasi atau punya harapan tentang tugas di tempat lain. Jawaban Anda? Saya katakan tak punya harapan dan aspirasi itu. Sebab membayangkan direshuffle saja tidak. Jadi saya tidak bisa membayangkan tugas di tempat lain. Nah, di ruang Presiden, Pak Presiden menyampaikan permohonan maaf. Saya ucapkan terima kasih sudah diberikan tugas, kemudian saya serahkan paparan atas apa yang saya sudah kerjakan, termasuk rencana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2017 dalam bentuk info singkat. Saat itu Presiden bertanya apakah saya ingin bertugas di tempat lain. Saya bilang tidak. Karena saya tidak pernah minta penugasan dan saya juga tidak pernah berpikir akan dicukupkan tugasnya. Jadi saya tidak punya bayangan tugas di tempat lain. Berapa lama pertemuan itu? Tak sampai lima menit. Dapat tawaran posisi lain dari Presiden, menjadi duta besar misalnya? Justru saya malah ditanya maunya (posisi) apa. Jadi bukan ditawari (jadi dubes) atau yang lain. Yang (menteri) lain ada yang menjawab mau jadi dubes, tapi saya enggak. Anda tadi bilang Presiden minta maaf. Apakah menurut Anda ada tekanan politik terhadap Presiden dalam memilih menterinya? Tidak tahu. Spekulasi kan banyak. Tapi saya tidak mau berspekulasi. Jadi apa pertimbangannya Anda diganti dengan Muhadjir Effendy? Saya tidak tahu.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ketika diwawancara Beritagar.id di atas mobil Nissan Evalia saat menjadi pembicara di beberapa tempat di Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ketika diwawancara Beritagar.id di atas mobil Nissan Evalia saat menjadi pembicara di beberapa tempat di Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
© Suryo Wibowo /Beritagar.id

Kabarnya Partai Demokrat menawari Anda menjadi calon gubernur di Jakarta tahun depan… Saya belum dengar. Apakah ada tawaran serupa dari partai lain? Sekarang saya mau santai-santai dulu, istirahat sebentar. Tawaran-tawaran itu adalah bentuk penghormatan–yang saya apresiasi. Artinya tawaran itu sudah ada? Pokoknya nanti saja kalau sudah ada tawaran yang serius. Jadi selama ini tawaran yang datang belum serius? (Anies terdiam) Ok. Sebagai mantan menteri, apa yang harus dibenahi soal pendidikan Indonesia? Kualitas guru dan sekolah-sekolahnya. Sekolah itu harus menjadi tempat belajar menyenangkan dan membuat anak nyaman. Untuk menjadi (sekolah yang) menyenangkan itu banyak konsekuensinya. Bobotnya harus proporsional dengan usia. Tantangannya juga harus proporsional. Selanjutnya adalah soal akses. Peruntukan pendidikan itu harus untuk semua. Bukan hanya pada sebagian. Apakah guru sekarang dianggap tidak berkualitas? Justru itu. Karakter mereka (guru) harus mau belajar terus. Mau mengambil ilmu terus. Bisa teratasi dengan gagasan menteri pendidikan yang baru, penerapan full day school? Saya memilih untuk tidak komentar, baik itu mendukung atau mengkritik. Saya menghormati Pak Menteri yang baru. Saya ingin jaga etika. Etikanya mantan itu adalah tidak mengomentari penggantinya yang sedang bertugas. Apa kesibukan Anda sehari-hari setelah menjadi mantan menteri? Saya mengantar anak sekolah. Kadang ada pertemuan, kadang ada tamu juga, atau membaca. Kadang saya juga pergi ke luar kota mengunjungi beberapa tempat. Saya suka keliling ke beberapa daerah. Dalam rangka mengajar? Enggak. Kalau mengajar kan harus terdaftar dulu pada jadwal semester di kampus. Sementara saya sudah cuti kemarin. Jadi dosen mata kuliahnya sudah penuh. Tapi saya tidak berencana ke kampus dulu. Bagaimana dengan Indonesia Mengajar? Itu (Indonesia Mengajar) sudah jalan. Saya masih jadi pembina di sana tapi tidak mengurus kegiatannya. Saya masih menikmati jadi orang bebas (tertawa).

Sumber : https://beritagar.id/artikel/bincang/anies-baswedan-saya-tidak-mengira-akan-diganti?utm_source=Kaskus%20Ads&utm_medium=CPM&utm_campaign=HT