Menyediakan Barang dan Jasa Teknologi Informasi

Jika Anda memerlukan perangkat IT dan sejenisnya yang murah serta berkualitas seperti Modem internet (GSM), FlashDisk, Mouse Wireless, Harddisk Portable, Tablet, Blackberry, PC, Laptop, Power Bank atau ada masalah komputer, laptop perlu install ulang atau hardisknya rusak…. atau bahkan kantor perlu jaringan LAN dan Internet ?

Dan Anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk memutuskan dan membeli perangkat teknologi yang memuaskan serta layanan purna jual yang menyenangkan.

Solusinya…
1. Kirim e-mail sales@yudisantosa.com untuk konsultasi sebelum memutuskan membeli suatu barang

2. Atau Klik http://yudisantosa.com/shop/

Anies Baswedan: Saya tidak mengira akan diganti

Anies Baswedan tak mau berspekulasi penggantian dirinya sebagai menteri karena adanya tekanan politik terhadap Presiden Joko Widodo
Dua puluh dua bulan menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan punya satu keinginan yang belum terbayar. Yakni berkunjung ke Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya Yogyakarta. “Tiap datang ke Yogyakarta rasanya semua sudah (saya kunjungi). Hanya sini yang belum,” katanya, Kamis (11/8/2016). Hari itu, keinginannya lunas. Di sela kunjungan ke Yogyakarta–usai menjadi pembicara di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta–ia menyempatkan ke kampus di Ngaglik, Sleman itu. Di depan ratusan pegawai ia bicara tentang pendidikan, keragaman suku bangsa, masa kecil dan jabatannya sebagai menteri–yang dikatakannya telah dicukupkan oleh Presiden Joko Widodo. “Kekuatan sebenarnya terletak pada sang aktor. Bukan peran yang sedang dimainkan,” kata Anies mengutip ucapan sastrawan dan pemain teater dunia Konstantin Stanislavsky. Jadi, “jangan kejar jabatan karena jabatan bisa datang dan pergi,” katanya menambahkan. Di sela perjalanannya ke beberapa tempat sebagai pembicara, Anies bersedia menerima Anang Zakaria, kontributor Beritagar.id, untuk wawancara di atas mobil. Hal itu dilakukan mengingat padatnya kegiatan Anies di Kota Gudeg pada Kamis itu. Anies tiba di Yogyakarta pukul 07.20 WIB, dan harus kembali lagi ke Jakarta pukul 13.05 WIB. Selain berbicara di depan mahasiswa UII dan beberapa tempat lain, ia juga menyempatkan diri berdoa di depan pusara ayahnya, Rasyid Baswedan, mantan Wakil Rektor UII Yogyakarta, yang dikebumikan di kompleks pemakaman kampus. Perbincangan berlangsung dua sesi, selama tidak lebih dari satu jam. Pertama dalam perjalanan dari kampus UII ke P4TK Yogyakarta. Kedua, ketika menuju bandara Adisucipto. Sepanjang perjalanan, di mobil ia bicara banyak tentang perombakan kabinet, tawaran jadi calon Gubernur DKI Jakarta, hingga soal gagasan full day school dari Muhadjir Effendy, seorang pegiat pendidikan yang menjadi penggantinya. Berikut kutipannya:
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan selesai diwawancara Beritagar.id di salah satu tempat makan di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan selesai diwawancara Beritagar.id di salah satu tempat makan di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
© Suryo Wibowo /Beritagar.id

Banyak orang tak mengira Anda terkena perombakan kabinet. Bagaimana tanggapan Anda? Kalau ditanya bagaimana saya juga tidak tahu. Saya juga tidak mengira dan tidak dengar kabar-kabar (reshuffle). Biasanya media malah lebih cepat dengar, tapi (kali) ini kan sama sekali tak ada yang tahu. Anda bertanya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) apa alasan Anda diganti? Saya tidak tanya. Sama sekali tidak. Saya analogikan saya ini adalah senopati. Senopati itu dikirim tugas harus siap, ditarik dari tugas pun juga siap. Bukankah Anda tidak masuk dalam menteri dengan rapor merah… Serapan anggaran Kemendikbud itu nomor dua paling tinggi. Artinya program berjalan. Kemudian soal audit, kami itu berstatus WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Lalu kami juga di posisi B plus atau A minus dalam kinerja kementerian. Jadi termasuk tinggi semua. Dalam opini masyarakat pun Kemendikbud termasuk paling tinggi. Lalu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap menterinya juga paling tinggi di antara menteri lain lho. Ya kalau lihat angka-angka (kami) memang tinggi. Anda merasa kecewa? Kita jangan bicara rasa. Kita sedang bicara dalam sebuah negara yang memiliki struktur. Ada pembagian wewenang. Ketika kepala negara memutuskan untuk cukup sampai di situ tentu ia punya pertimbangan. Saya justru menghormati Pak Presiden dengan hak prerogatifnya. Beliau adalah kepala negara dan kepala pemerintahan. Saya adalah anak buahnya. Begitu ada perintah saya jalankan. Itu namanya disiplin organisasi. Tapi Anda terbilang orang dekat Jokowi, bahkan sudah bersamanya sebelum jadi Presiden… Saya ini menjalankan tugas dengan senang hati. Apakah saya siap? Saya siap. Apakah saya mengira (akan diganti)? Saya tidak mengira. Tapi saya tidak mau kecewa. Jalani saja. Saya harus siap dengan keputusan apapun yang dibuat Pak Presiden. Tidak kecewa namun terkejut karena Anda merasa tidak akan diganti? Mengejutkan. Tapi saya memilih siap untuk menjalani. Semua teman-teman tahu bahwa saya biasa dan tenang saja. Mulai dari berangkat ke Istana, bertemu Presiden, kemudian pulang dari Istana. Silakan tanya saja sama yang ikut satu mobil dengan saya. Kapan Anda diberitahu Presiden? Kira-kira jam 7 malam (sehari sebelum reshuffle). Saya dipanggil dan hari Rabu sudah serah terima (jabatan). Apa yang dibicarakan dengan Presiden saat pemanggilan itu… Kronologinya begini. Selasa malam saya ditelepon ajudan Pak Jokowi untuk datang ke Istana. Sampai Istana saya bertemu Pak Menteri Sekretaris Negara (Pratikno) dan Pak Menteri Sekretaris Kabinet (Pramono Anung). Mereka ditugasi menyampaikan ke saya bahwa Pak Presiden akan melakukan reshuffle dan salah satu yang direshuffle adalah saya. Keduanya lalu menanyakan apakah saya punya aspirasi atau punya harapan tentang tugas di tempat lain. Jawaban Anda? Saya katakan tak punya harapan dan aspirasi itu. Sebab membayangkan direshuffle saja tidak. Jadi saya tidak bisa membayangkan tugas di tempat lain. Nah, di ruang Presiden, Pak Presiden menyampaikan permohonan maaf. Saya ucapkan terima kasih sudah diberikan tugas, kemudian saya serahkan paparan atas apa yang saya sudah kerjakan, termasuk rencana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2017 dalam bentuk info singkat. Saat itu Presiden bertanya apakah saya ingin bertugas di tempat lain. Saya bilang tidak. Karena saya tidak pernah minta penugasan dan saya juga tidak pernah berpikir akan dicukupkan tugasnya. Jadi saya tidak punya bayangan tugas di tempat lain. Berapa lama pertemuan itu? Tak sampai lima menit. Dapat tawaran posisi lain dari Presiden, menjadi duta besar misalnya? Justru saya malah ditanya maunya (posisi) apa. Jadi bukan ditawari (jadi dubes) atau yang lain. Yang (menteri) lain ada yang menjawab mau jadi dubes, tapi saya enggak. Anda tadi bilang Presiden minta maaf. Apakah menurut Anda ada tekanan politik terhadap Presiden dalam memilih menterinya? Tidak tahu. Spekulasi kan banyak. Tapi saya tidak mau berspekulasi. Jadi apa pertimbangannya Anda diganti dengan Muhadjir Effendy? Saya tidak tahu.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ketika diwawancara Beritagar.id di atas mobil Nissan Evalia saat menjadi pembicara di beberapa tempat di Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ketika diwawancara Beritagar.id di atas mobil Nissan Evalia saat menjadi pembicara di beberapa tempat di Yogyakarta, Kamis (11/8/2016).
© Suryo Wibowo /Beritagar.id

Kabarnya Partai Demokrat menawari Anda menjadi calon gubernur di Jakarta tahun depan… Saya belum dengar. Apakah ada tawaran serupa dari partai lain? Sekarang saya mau santai-santai dulu, istirahat sebentar. Tawaran-tawaran itu adalah bentuk penghormatan–yang saya apresiasi. Artinya tawaran itu sudah ada? Pokoknya nanti saja kalau sudah ada tawaran yang serius. Jadi selama ini tawaran yang datang belum serius? (Anies terdiam) Ok. Sebagai mantan menteri, apa yang harus dibenahi soal pendidikan Indonesia? Kualitas guru dan sekolah-sekolahnya. Sekolah itu harus menjadi tempat belajar menyenangkan dan membuat anak nyaman. Untuk menjadi (sekolah yang) menyenangkan itu banyak konsekuensinya. Bobotnya harus proporsional dengan usia. Tantangannya juga harus proporsional. Selanjutnya adalah soal akses. Peruntukan pendidikan itu harus untuk semua. Bukan hanya pada sebagian. Apakah guru sekarang dianggap tidak berkualitas? Justru itu. Karakter mereka (guru) harus mau belajar terus. Mau mengambil ilmu terus. Bisa teratasi dengan gagasan menteri pendidikan yang baru, penerapan full day school? Saya memilih untuk tidak komentar, baik itu mendukung atau mengkritik. Saya menghormati Pak Menteri yang baru. Saya ingin jaga etika. Etikanya mantan itu adalah tidak mengomentari penggantinya yang sedang bertugas. Apa kesibukan Anda sehari-hari setelah menjadi mantan menteri? Saya mengantar anak sekolah. Kadang ada pertemuan, kadang ada tamu juga, atau membaca. Kadang saya juga pergi ke luar kota mengunjungi beberapa tempat. Saya suka keliling ke beberapa daerah. Dalam rangka mengajar? Enggak. Kalau mengajar kan harus terdaftar dulu pada jadwal semester di kampus. Sementara saya sudah cuti kemarin. Jadi dosen mata kuliahnya sudah penuh. Tapi saya tidak berencana ke kampus dulu. Bagaimana dengan Indonesia Mengajar? Itu (Indonesia Mengajar) sudah jalan. Saya masih jadi pembina di sana tapi tidak mengurus kegiatannya. Saya masih menikmati jadi orang bebas (tertawa).

Sumber : https://beritagar.id/artikel/bincang/anies-baswedan-saya-tidak-mengira-akan-diganti?utm_source=Kaskus%20Ads&utm_medium=CPM&utm_campaign=HT

The Commitment

Ah…sudah cukup lama tidak menulis di blog pribadi ini, lalu tiba-tiba punya  keinginan yang cukup kuat untuk sekedar menulis tetapi yang berkaitan dengan suasana hati.

Komitmen,… sebuah kata yang tidak jarang kita dengar ketika sebuah pekerjaan, baik yang kecil atau besar sekalipun menjadi sebuah pertaruhan akan kesuksesan pekerjaan/proyek.

Saat ini, menjadi cukup sulit mencari komitmen, mungkin disebabkan pergeseran makna dari komitmen tersebut, apa lagi yang berhubungan dengan dunia politik. Tapi bukan politik yang menjadi fokus saya hari ini.

Komitmen atau janji yang diucapkan menjadi suatu amanah yang berat jika diucapkan oleh orang-orang yang tidak memiliki visi misi yang jelas. Sehingga sudah selayaknya seorang pemimpin memiliki kepekaan visi misi kemudian menjaring mitranya agar visi misi tersebut tercapai. Pemahaman visi misi yang digagas hendaknya benar-benar dipahami dan seringkali harus ‘mengorbankan’ keperluan individu.

Sikap egois dan menang sendiri tidak akan bertahan cukup lama dalam situasi saat ini, terlebih dalam komunitas yang sama. Sehingga ketika visi misi sudah dicanangkan, semua elemen harus fokus kepada bagaimana mencapai visi dan misi tersebut.

Keberhasilan mencapai visi misi merupakan keberhasilan kepempimpina yang efektif, diperlukan pengorbanan yang kadang tidak sedikit, baik mitra terlebih pemimpin itu sendiri.

Oleh sebab itu, marilah menjadi orang yang bermanfaat dengan memahami visi misi dan kemudian berkomitmen terhadap tugas dan tanggung jawab.

 

Medio Mei 2016

[Kompasiana] Mata Uang Baru Itu Bernama Data

Worth it untuk dibaca….

Di tahun 2004-2007 Google disibukkan dengan rencana mengembangkan bisnis mereka ke bidang telepon selular (ponsel).
Google telah memprediksi bahwa ponsel adalah masa depan komputasi. Sehingga mereka ingin memproduksi ponsel untuk menyaingi para raksasa saat itu: Nokia, Blackberry, Sony Ericsson dan Motorola.
Ditambah, Google mengendus bahwa Apple akan segera merilis ponsel revolusioner yang kini kita kenal dengan nama iPhone.
Memproduksi ponsel bukan hanya soal menciptakan perangkat kerasnya (hardware), tapi juga sistem operasinya (operating system-OS).
OS ponsel saat itu hanya 3: Symbian, Microsoft Mobile dan Blackberry. Hanya Symbian yang open source. Namun pengembangan Symbian oleh Symbian Foundation dibiayai oleh Sony Ericsson, Samsung, Motorola dan Nokia.
Kalau Google ikut ke Symbian, sama juga bohong. Bukan Google kalau tidak berpikir out of the box. Dalam sebuah rapat, CEO Google Eric Schmidt berkata, “Kita tidak akan membuat ponsel. Tapi membuat sesuatu yang akan digunakan di semua ponsel.”
Artinya, alih-alih memproduksi brand baru ponsel untuk menyangi brand lain, Google akan menciptakan OS yang bisa dipergunakan semua ponsel di seluruh dunia. Hoki Google sedang terang. Tahun 2005 mereka dipertemukan dengan Andy Rubin, pengembang OS Android, yang sedang kekurangan duit.
Google membeli Android sekaligus Rubin sebesar $50 juta. Android adalah OS ponsel berbasis Linux yang open source dan gratis. Dengan Android sebagai senjata, Google memulai perangnya di bisnis ponsel dan kini berhasil menjatuhkan para raksasa lama.
Diluncurkan resmi tahun 2010, kini Android adalah OS ponsel yang paling banyak digunakan di dunia. Ia terpasang di 1,6 miliar lebih ponsel, melampaui iOS dengan 628 juta.
Karena Android lah sekarang kita bisa menikmati smart phone dengan harga bahkan di bawah Rp1 juta. Karena ia gratis sehingga setiap produsen smart phone bisa menekan biaya produksi serendah-rendahnya. Karena Android bermunculan produsen smart phone, termasuk di dalam negeri. Bahkan demi Android, Google membeli Motorola (yang beberapa waktu lalu dijual lagi). Kalau Android gratis, darimana Google untung?
ERA KAPITALISASI DATA
Ponsel adalah perangkat komputasi yang sudah jadi bagian hidup sehari-hari orang banyak. Hadapi kenyataan ini: ponsel anda lebih tahu siapa anda dibandingkan diri anda sendiri. Ponsel adalah mesin tambang emas. Emas itu adalah data anda. Data ini tidak sekedar nama, gender, usia dan lokasi yang datanya anda masukkan ketika registrasi akun untuk mengakses Android (atau iPhone).
Google tahu hobi dan perilaku anda dari aplikasi yang anda install dari Playstore. Mereka bisa secara presisi tahu lokasi anda dan tempat-tempat yang anda kunjungi lewat GPS untuk membaca minat anda. Semua situs yang anda kunjungi lewat ponsel akan terekam dan dibaca datanya untuk mengidentifikasi ketertarikan anda. Lewat email yang masuk ke ponsel, Google bisa tahu pekerjaan, relasi dan minat.
Bahkan, bila anda sudah memakai Google Wallet yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran ke mesin EDC dengan cara tapping, Google tahu berapa pengeluaran anda dan dimana anda berbelanja. Data-data ini masih ditambah dengan data yang mereka dapatkan ketika anda menggunakan perangkat komputasi lain, PC contohnya. Kebetulan browser paling banyak dipakai adalah Google Chrome yang disinkronkan dengan akun Google anda. Situs apa yang anda kunjungi, berapa lama anda bertahan di situs tersebut, aktivitas apa yang anda lakukan, Google tahu. Mungkin terdengar mengerikan, tapi itulah kenyataanya.
Apa yang akan Google lakukan ketika semua data kita (dan miliaran user lain) mereka pegang? Menjual data itu ke pengiklan. Google adalah biro iklan terbesar di planet ini. Nama produknya adalah Adsense. Pendapatan Google dari Adsense tahun 2014 adalah $59 miliar atau Rp826 triliun.
Hampir separuh APBN Indonesia 2014 yang sebesar Rp1.800 triliun itu. Bagaimana data-data itu bisa berguna bagi pengiklan? Setiap pengiklan atau pemilik brand ingin agar setiap iklannya disaksikan oleh calon konsumen yang sesuai dengan target pasar mereka. Misal, brand mobil akan sia-sia mengiklankan diri mereka kepada orang yang beli sepeda motor pun tak sanggup. Karena periklanan konvensional tak bisa memenuhi kebutuhan micro targeting, maka dilakukankan periklanan dalam bentuk broadcast.
Memasang billboard tepi jalan misalnya. Misal, dari 1 juta orang yang melihat iklan itu per hari, hanya 30% yang mampu beli mobil, atau hanya 10% yang sedang berencana beli mobil. 70% sisanya sia-sia. Bila tarif memasang iklan tepi jalan itu Rp300 juta/bulan dan hanya bisa mendatangkan 100 pembeli/konsumen, maka nilai akusisinya adalah Rp3 juta per konsumen. Alangkah mahalnya. Mahalnya nilai akuisisi ini karena pengiklan turut menghabiskan uangnya menampilkan iklan kepada audien yang bukan segmen pasar mereka. Ini bukan disengaja, tapi tak ada jalan keluar untuk micro targeting. Sampai Google menyediakan Adsense. Dengan Adsense, selain micro targeting, pengiklan bisa membayar sesuai kebutuhan. Misal, mereka hanya butuh iklan mereka disaksikan, maka bisa memilih cost per mile (CPM). Bila butuh audien mengklik, bisa memilih cost per click (CPC). Atau, kalau anda ingin baru membayar ketika konsumen bertransaksi di website anda, bisa memilih cost per acquisition (CPA). Sampai di sini anda sudah tahu bagaimana data bisa dikapitalisasi, dikomersialisasi atau dimonetisasi sampai jumlah pendapatan super raksasa. Data ini didapatkan dari user, kita semua. Demi mendapatkan user, Google menyediakan berbagai platform gratis: mesin pencari, Android, Chrome, Youtube, Google+. Dan yang terakhir yang sedang ramai di Indonesia adalah Google Baloon, sebuah akses internet wifi gratis dari Google berbentuk balon.
Bayangkan berapa user dan data yang bisa Google dapatkan dari balon itu. Mau tak mau kita harus setuju dengan argumen ini: if something is free, then you’re the product. Yang membuat kapitalisasi data ini makin menarik adalah setiap orang bisa ikut untung. Setiap pemilik website, mobile app dan video di Youtube, bisa menyediakan tempat atau konten mereka sebagai tempat periklanan Adsense. Setiap orang bisa jadi media beriklan dan dapat pemasukan besar. Penyedia konten seperti Kompasiana, Detik, Kompas, Tribun, ikut menjadi rekanan Adsense. Pencipta game fenomenal Flappy Bird, meraup untung Rp608 juta per hari dari iklan Adsense yang ia tayangkan di game-nya. Atau seperti Yugianto, warga Desa Jamus di Karanganyar yang mendapatkan Rp40 juta/bulan dari kumpulan videonya di Youtube. Yang melakukan ini bukan hanya Google, tapi juga Facebook yang memanfaatkan data usernya ke pengiklan Facebook. Kedua bersaing dalam mendapatkan user sebanyak-banyaknya agar makin banyak data sebagai ’emas’ yang bisa digali.
Maka tak heran bila dua entitas ini menjadi promotor utama dalam gerakan internet gratis. Makin murah atau gratis internet, makin banyak pula user yang mereka dapatkan dan otomatis makin banyak data yang bisa digali untuk kemudian dijual. Begitu pentingnya data bagi bisnis digital dan sudah jadi mata uang baru, salah satu profesi yang paling seksi di era ini adalah data scientist atau ilmuwan data. Ainun Nadjib, penggagas Kawal Pemilu yang fenomenal itu kini bekerja sebagai data scientist di sebuah perusahaan digital di Jakarta. Sampai di sini anda sudah memahami mengapa sebuah penyedia produk gratis bisa menghasilkan keuntungan raksasa dan jadi perusahaan paling kaya di planet ini.
MEMBAKAR UANG DEMI USER
Bila anda sering berkunjung atau berbelanja ke situs belanja online, khususnya Indonesia, akan sering ditemui barang dengan harga jauh lebih murah dibanding pasaran. Atau sering juga ada program promo yang menjual barang dengan diskon sampai 90%, bahkan 99%. Harga-harga yang sulit diterima akal. Kita yang awam ini akan berpikir harga bisa murah karena banyak biaya operasional yang dipangkas, atau sebuah brand produk sedang promosi di situs itu. Sebagian kecil benar, tapi sebagian besar salah. Yang terjadi adalah pengelola toko online memberi subsidi kepada konsumen sejumlah selisih harga. Bila distributor memberi harga Rp1 juta kepada toko, dan toko menjual seharga Rp500 ribu kepada konsumen, maka toko nombok Rp500 ribu. Kalau ada 100 pembelian, maka toko nombok Rp50 juta. Sebagai orang yang sering berpergian, saya selalu gunakan aplikasi pemesanan tiket pesawat dan hotel. Sumpah, ini bukan iklan, tapi namanya Traveloka. Saya pernah protes kepada pengelola hotel yang rajin saya inapi mengapa ia tak bisa memberi saya harga semurah Traveloka kalau saya go show (datang langsung). Ia jawab, harga kamar yang ia berikan ke Traveloka sama dengan harga kamar bila saya go show. Kalau harga Traveloka lebih murah, itu karena disubsidi atau ditomboki oleh Traveloka. Lha, jualan kok nombok? Kalau mau yang lebih aneh lagi, lihat Gojek.
Mereka kabarnya telah mendapatkan investasi sedikitnya Rp200 miliar Sequoia Capital di pertengahan tahun tadi. Ada juga yang menyebut Rp600 miliar. Sampai sekarang Gojek masih rugi, terutama karena bonus referral. Kerugian keuangan Gojek ini dikonfirmasi oleh Nadiem Makarim, CEO Gojek. Dalam sebuah pertemuan pada Oktober lalu, Nadiem mengatakan, “Kami memang belum untung. Kalau kami untung justru kami dimarahi investor.” Investor kok tidak mau untung? Tidak masuk akal, kan? Kalau mau yang lebih tidak masuk akal lagi, lihatlah Whatsapp. Messanger ini tidak menampilkan iklan, pun gratis tahun pertama. Biaya berlangganan di tahun berikutnya hanya $1/tahun. Itu pun bisa ‘diakali’ supaya gratis terus. Tapi tahun lalu Facebook membeli Whatsapp Rp222 triliun! Secara keuangan, perusahaan ini tidak pernah untung, tidak beriklan, tapi dibeli ratusan triliun. Bisnis konvensional sulit memahami ini. Selama ini performace bisnis hanya diukur lewat angka di buku keuangan perusahaan. Kalau duitnya minus, berarti jelek. Namun dalam bisnis digital, data adalah mata uang baru. Pintu masuknya melalui jumlah user. Kalau kita sudah mendapatkan user, datanya akan siap untuk dikapitalisasi untuk apapun. Iklan hanya salah satunya. Artinya, kalau sudah punya banyak user, terserah mau kita manfaatkan untuk apapun agar menghasilkan uang. Jadi, dalam bisnis digital modal dalam bentuk uang lebih sebagai tool atau perangkat untuk mencapai target yang sebenarnya: user dan data. Dalam startup (perusahaan rintisan) digital, hal seperti ini biasa disebut membakar uang demi mendapat user. Bukan hanya membakar lewat pemberian subsidi harga, tapi juga periklanan. Dengan investasi Rp1,2 triliun, Tokopedia bisa menempatkan iklannya di berbagai billboard Ibukota. Dengan modal Rp6,5 triliun, Mataharimall sanggup memberi diskon barang sampai 99%. Dengan jumlah user yang banyak, valuasi atau nilai produk atau perusahaan digital otomatis akan naik. Whatsapp dengan 1 miliar pengguna dan 450 juta pengguna rutin bulanan, ketika baru dirilis tahun 2009 oleh Ian Koum hanya bermodal investasi $250 (iya, hanya $250). Dua tahun kemudian, Sequoia Capital menyuntik dana $80 juta. 2013, Sequoia menambah lagi investasi $50 juta ke Whatsapp. Sampai 2014 ia dibeli Facebook $19 miliar. Bayangkan betapa tajirnya pemilik saham Whatsapp seperti Koum dan Sequoia. Facebook ‘membeli’ setiap user Whatsapp seharga $42/user. Bulan lalu saya bertemu dengan COO Kompasiana, Pepih Nugraha, di Jakarta. Beliau bertanya, “Kalau menurut hitungan Mas Hilman, berapa nilai Kompasiana?” Anda akan terkejut dengan jawabannya. (*)

http://www.kompasiana.com/hilmanfajrian/mata-uang-baru-itu-bernama-data_564c2214b19273b106541023