Daily Archives: October 8, 2013

P#94: Indah Ditempuh, Jika Bisa Menikmatinya

P#94: Indah Ditempuh, Jika Bisa Menikmatinya

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Apa yang Anda rasakan jika rutinitas Anda yang nyaman tiba-tiba terganggu oleh sesuatu yang tidak Anda harapkan? Biasanya kesal sekali kan. Semakin besar gangguannya, semakin kesal kita rasanya. Dan karena kesal itu, sesuatu yang biasanya kita jalani biasa-biasa saja menjadi sangat menyebalkan. Mood kita tiba-tiba saja hilang. Seolah-olah, sesuatu telah direnggut dari tangan kita. Padahal kenyataannya, kekesalan yang kita umbar itu sama sekali tidak menjadikan keadaan lebih baik kan? Bahkan sebaliknya, malah membuat efeknya menjadi lebih menyakitkan. Kalau sudah demikian, mana mungkin kita bisa menikmatinya kan?

Ada sebuah jalur yang biasa saya tempuh. Meski dijalan itu ada lubang disana-sini. Ketika malam itu saya kembali melintas disitu, ada sekelompok pekerja sedang memasang papan-papan yang membagi jalan menjadi dua bagian. ‘Wah, akan dicor nih.’ Begitu saya berpikir. Besok saya harus berangkat lebih pagi untuk mengurangi dampak macetnya. Dan benar saja. Pagi-pagi sekali jalanan sudah macet. Dua mobil molen sedang mengucurkan adukan semen diruas jalan itu. Saya sudah paham sejak semalam sehingga meski macetnya tidak kepalang tanggung, tidak terlalu tertarik untuk menggerutu.

Segala sesuatunya menjadi terasa lebih ringan jika kita tahu atau paham terlebih dahulu. Coba saja perhatikan bahwa kekesalan-kekesalan Anda terhadap orang lain atau situasi tertentu lebih banyak timbul karena Anda tidak memahami situasinya. Begitu paham, Anda langsung bilang begini;”Oooh, jadi begitu toh ceritanya. Lain kali ngomong dong, jangan diam begitu. Saya kan nggak ngerti kalau kamu nggak ngomong….” Setelah bilang begitu, Anda memahami dan memakluminya. Dan Anda pun tak kesal lagi. Pelajaran pertama; “Pahamilah situasinya, maka kita tidak tertarik lagi untuk mengeluhkannya.”

Orang-orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi didepan pada bertanya;”Ada apa sih Mas, kok macet banget?” Menurut Anda, bagus nggak jika orang bertanya begitu? Bergantung. Saya perhatikan, ada 2 jenis orang yang menggunakan kalimat itu. Pertama, orang yang bertanya untuk sekedar melampiaskan kekesalan. Sebenarnya orang ini nggak butuh jawaban. Daripada mingkem, dia memilih bicara saja. Kedua, orang yang bertanya karena benar-benar ingin tahu ada apa didepan sehingga macetnya sedemikian berat.

Dikantor-kantor juga banyak kan orang yang bicara. Sepertinya mereka bertanya. Padahal sebenarnya mereka mempertanyakan. Orang yang bertanya itu jelas butuh jawaban. Sedangkan orang yang mempertanyakan mengharapkan agar orang yang ditanya atau pihak yang disindirnya melakukan apa yang dia inginkan. Hati-hati jika Anda punya sifat ‘mempertanyakan’. Karena sifat itu tidak membuat kita lebih tercerahkan. Kita nggak bakal jadi lebih pintar dengan sikap mempertanyakan itu, karena sikap mempertanyakan bukan datang dari rasa ingin tahu. Melainkan dari penyangkalan terhadap sesuatu. Pelajaran kedua; “Bertanyalah untuk mendapatkan jawaban, bukan untuk mempertanyakan suatu keadaan.”

Selagi mengantri panjang itu, seorang pengendara mobil persis dibelakang saya membunyikan klakson. Pertama cuman sekali. ‘Tin’ begitu bunyinya. Berikutnya bunyinya sudah menjadi dua kali, ‘tintin’. Lalu dibunyikannya lagi klaksonnya. “Tin Tin Tiiiiiiiiiiiiiin!” Nah, sekarang orang itu sudah emosi. Menurut pendapat Anda, bagaimana tanggapan para pengendara lain yang mendengar klakson kekesalan itu?

Anda keliru jika mengira pengendara lain akan ikut-ikutan memencet klakson. Itu para pengemudi motor pada nyereng. Tahu kenapa? Karena ulah tukang klakson itu menyakiti telinga mereka. Dia sih enak, ada didalam mobil sehingga nggak panas kuping oleh bunyi klaksonnya. Orang yang diluar? Perhatikan ketika kita sedang menghadapi situasi buruk. Lalu kita uring-uringan. Maksud kita sih protes pada pengambil keputusan. Tapi ternyata tindakan kita itu berdampak buruk kepada orang lain. Pelajaran ketiga;”Ulah menyebalkan yang kita lakukan, tidak mengundang simpati orang lain.”

Beberapa pengendara mulai memutar arah. Mereka balik lagi meskipun sudah cukup banyak waktu dan bensin yang terbuang. Beberapa diantaranya membuka pintu jendela. Mengacungkan jempol untuk meminta jalan kepada pengendara lain. Setelah itu mereka melemparkan senyum. Pengendara lain yang memberi ruang untuk berputar itu pun tersenyum. Atau mengangkat tangan tanda tabik. Atau sekedar, menganggukkan kepala. Atau minimal, mereka merasa senang karena antrian menjadi berkurang.

Perhatikanlah bahwa tidak ada orang lain yang memaksa kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kita merdeka untuk mengambil pilihan. Tetapi ketika pilihan itu dilakukan dengan penuh simpatik, orang lain membalas kita dengan respek. Banyak orang yang berputar sambil bersungut-sungut. Meski pengendara dibelakangnya senang karena antrian berkurang, tak seorang pun berselera melihat raut wajahnya yang bikin enek. Beda dengan orang yang mengacungkan jempol. Lalu memutar balik sambil tetap menjaga pembawaan dirinya tetap baik. Orang menaruh hormat kepadanya, bukan karena mengurangi antrian. Melainkan karena sikapnya telah ikut menyejukkan keadaan. Pelajaran keempat; “Jika mesti mengambil jalan yang berlawanan, lakukanlah dengan sikap yang tetap elegan.”

Setelah sekitar 20 menit mengantri. Kini tiba giliran saya. Ruas jalan yang mengalami perbaikan itu kira-kira sepanjang 100 meteran. Selain menyempit. Jalanan pun dihiasi dengan batang-batang besi yang mencuat. Namun semua orang yang melintas dijalan itu sekarang merasa lega. Karena sebentar lagi akan terbebas dari kemacetan yang menyiksa. Dan benar. Selepas ruas yang diperbaiki itu, jalanan kosong melompong. Tak ada penghalang apapun. Pelajaran kelima;”Keindahan yang sesungguhnya tidak terletak diawal. Melainkan di bagian akhir perjuangan kita.”

Perhatikanlah. Disetiap ujung perjuangan kita, selalu ada keindahan. Meski sulit menempuhnya, namun ada hadiah yang menyenangkan diakhirnya. Kita boleh saja berputar balik, jika yakin akan keindahan lain yang sepadan dengan yang kita tinggalkan. Dan kita juga boleh untuk terus konsisten dengan jalur yang sudah kita tempuh. Tidak jadi soal mana saja pilihan yang kita ambil. Selama kita bisa menikmati pilihan itu, maka kita bisa menjalaninya dengan indah. Persis seperti yang Tuhan firmankan dalam surah 94 (Al-Insyirah) ayat 5; “Maka sesungguhnya, dalam setiap kesulitan itu terdapat kemudahan.” Lalu diulangiNya sekali lagi firman itu dalam ayat ke-6; “Sesungguhnya dalam setiap kesulitan itu terdapat kemudahan….”

Jika dalam setiap kesulitan yang kita hadapi ada kemudahan, apa yang perlu kita lakukan sahabat? Menemukan kemudahan itu ya? Keadaan ini mungkin sangat sulit. Tapi dalam kesulitan itu ada kemudahan. Dimana letak kemudahan itu jika demikian? Sederhana saja sahabat. Kemudahan itu ada pada kesediaan kita untuk menikmati perjalanan sulit itu. Tanpa menggerutu. Tanpa mengumpat. Tanpa mengusik kepentingan orang lain. Maka mari kita nikmati kesulitan yang tengah kita hadapi ini dengan penerimaan yang tulus, dan sikap yang tetap baik. Sehingga hati, jiwa dan emosi kita tetap terjaga baik. Meski secara fisik kita tengah menjalani tantangan yang sulit. Insya Allah, kesulitan ini akan indah untuk ditempuh. Selama kita menikmatinya dengan penerimaan yang utuh.

NB: Akhir tahun kantor Anda mengadakan annual business meeting ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA berbicara di forum itu? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 1 Oktober 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Keadaan ini mungkin memang sulit. Akan semakin sulit lagi jika kita membiarkan dorongan-dorngan negatif mendominasi perasaan kita. Dan akan menjadi terasa lebih ringan, jika jiwa tetap tenang dalam menghadapinya. Sehingga kita, akan menemukan rasa nikmatnya.

Haruskah Atasan Menjadi Solution Maker ?

L#58: Haruskah Atasan Menjadi Solution Maker?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Menurut pendapat Anda, seorang atasan itu mesti menjadi seorang solution maker atau tidak? Sejauh yang saya pahami, ada dua pendapat soal ini. Pertama, memang banyak orang yang berpendapat bahwa setiap atasan itu wajib menjadi solution maker. Buat apa menjadi atasan jika tidak bisa memberi solusi kan? Kedua, banyak juga yang berpendapat bahwa atasan tidak perlu memberikan solusi karena kalau solusi itu datang dari atasan, maka anak buah akan menjadi manja. Lama kelamaan anak buah yang seperti itu tidak bisa mandiri, terus menerus bergelayut pada pundak atasannya, sehingga akan menjadi beban bagi atasan. Menurut pendapat Anda mana yang paling tepat. Apakah pendapat pertama atau kedua?

Misalnya saja Anda punya seorang atasan. Dan atasan Anda itu bisanya hanya menuntut hasil saja kepada Anda, tanpa ada solusi yang dia berikan setiap kali Anda menghadapi permasalahan. Anda sadar bahwa salah satu alasan mengapa Anda dibayar oleh perusahaan adalah untuk menuntaskan tugas-tugas yang diberikan perusahaan. Atau untuk memenuhi target-target yang diinginkan perusahaan. Anda sepenuhnya sadar akan hal itu. Tetapi, ada begitu banyak kendala yang Anda hadapi di lapangan sehingga proses pencapaian target itu menjadi terkendala. Sayangnya, atasan Anda tidak bisa memberikan solusi atas permasalahan yang Anda hadapi. Bagaimana pandangan Anda terhadap atasan yang seperti itu? Anda tidak menyukainya kan. Apalagi jika setiap saat dia bertanya; sudah berapa salesnya? Sudah selesai belum? Anda pasti sebel kan?

Misalnya lagi. Kali ini Anda mempunyai seorang anak buah. Setiap kali ada masalah dilapangan, dia selalu mandek. Padahal, dia haaarus mencapai target-target tertentu sehingga ketidakmampuannya untuk mengatasi masalah sendiri sangat mempengaruhi kinerjanya. Kalau Anda – sebagai atasannya – tidak memberinya solusi; dia tidak akan bisa menemukannya sendiri. Anda mau membiarkan dia terserah deh ancur-ancuran sekalian. Udah nggak bisa diharepin lagi kan anak buah seperti itu? Tapi jika begitu berarti kinerja team Anda akan terpengaruh, sehingga akan membuat kondite Anda juga ikut jatuh. Maka mau tidak mau deh, Anda kasih dia solusi untuk setiap permasalahan yang dia hadapi di lapangan.

Sekarang, ijinkan saya untuk bertanya lagi; menurut pendapat Anda, seorang atasan itu mesti menjadi seorang solution maker atau tidak? Sudah Anda putuskan jawabannya? Silakan mengacu kepada dua situasi yang saya uraian diatas untuk menjamin Anda menjawab pertanyaan itu dengan baik. Kalau Anda belum yakin dengan jawabannya, mari kita simak lagi ilustrasi lainnya.

Suatu ketika Anda tidak berhasil mencapai target-target Anda. Lalu atasan Anda marah-marah. Anda sudah menjelaskan kepada beliau bahwa hal itu terjadi karena ada masalah di lapangan yang tidak bisa Anda atasi. Anda mau mengatasinya sendiri, tapi hal itu berada di luar kewenangan Anda. Jadi atasan Anda itulah yang mesti turun tangan. Sebab jika Anda sendiri yang melakukannya tidak akan efektif. Namun setelah berkali-kali dijelaskan pun Anda tidak mendapatkan solusi yang berarti dari atasan Anda itu. Walhasil, Anda mengalami sindrom gagal maning-gagal maning. Ya mau gimana lagi, soalnya masalah itu sungguh diluar kemampuan Anda. Bagaimana perasaan Anda kepada atasan itu? Cinta banget ya….

Sekarang kita balik situasinya. Anda yang menjadi atasan, dan ada seorang anak buah di team kerja Anda yang berani mengambil keputusan. Tapi keputusannya itu keliru melulu. Dia juga berani mencari solusi. Tapi solusi yang dipilihnya itu malah bikin keadaan semakin berantakan. Anda seneng sih dengan inisiatifnya. Tapi, kalau inisiatif itu malah bikin susah kan akhirnya jadi sebel juga. Ini anak kayak yang iya aja pinternya. Nggak nyadar kalau tindakannya itu sering ngaco. Bukannya menyelesaikan masalah yang ada, eh… malah menambah rumit situasinya.

Sekarang, sekali lagi saya tanya Anda. Menurut pendapat Anda, seorang atasan itu mesti menjadi seorang solution maker atau tidak? Yakin dengan jawaban itu? Baiklah, mari kita periksa apakah jawaban Anda sudah tepat atau belum.

Perhatikan lagi situasi-situasi yang saya uraikan diatas. Pertama kali saya menunjukkan kepada Anda tentang atasan yang mesti menjadi ‘solution maker’. Kemudian, saya menjelaskan tentang atasan yang tidak ingin anak buahnya tidak mandiri. Begitu kan situasinya? Selanjutnya saya memberi contoh kasus, seandainya Anda punya atasan seperti begini. Dan seandainya lagi Anda punya anak buah seperti begono. Ada nggak sih, diantara situasi dan scenario yang saya jelaskan diatas itu yang saling bertolak belakang? Tidak ada. Kenapa? Karena kedua situasi yang saya utarakan itu adalah sebuah sinergi.

Dimana letak sinerginya? Begini. Dari atasan Anda, pasti Anda mengharapkan ada solusi untuk perosalan yang tidak bisa Anda selesaikan iyya kan? Dan dari anak buah, Anda ingin sekali agar mereka kreatif, mandiri dan mampu menemukan solusi atas setiap persoalan yang dihadapinya di lapangan. Betul begitu kan? Maka jelas dong bahwa atasan kita mengharapkan kita untuk menjadi anak buah yang mampu menemukan solusi sendiri, jangan hanya menunggu solusi datang dari beliau. Dan jelas juga dong, kalau anak buah kita mengharapkan agar kita ini mampu menjadi atasan yang bisa memberikan solusi bagi mereka, ketika mereka tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Jadi, apakah seorang atasan mesti menjadi ‘solution maker’? Waaaajib, hukumnya. Kenapa? Karena, sebagai atasan kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa seluruh proses bisnis di team yang kita pimpin berjalan dengan baik. Tidak peduli ada masalah sebesar atau serumit apapun, mesti ditemukan solusinya. Jika anak buah Anda tidak bisa menyelesaikan masalah itu, masak sih Anda mau membiarkan hal itu berlarut-larut. Memangnya Anda mau bilang apa kepada boss Anda? “Maaf boss, kinerja team saya jelek sekali karena anak buah saya tidak bisa mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi dilapangan…” Emangnya pantes kita bilang begitu? Kan tidak. Kitalah bossnya. Maka kitalah yang mesti memastikan team ini berjalan dengan baik. Dan hal itu, tidak akan terjadi jika sebagai atasan; kita tidak mampu menjadi solution maker.

Tapi, masak sih semua masalah anak buah saya mesti dari saya solusinya!? Hohoho, nggak ada yang bilang Anda mesti memberi solusi pada semua permasalahan. Yang mesti kita miliki itu adalah ‘kemampuan’ untuk menemukan solusi-nya, bukan ‘memberi’ solusi. Anda mesti mampu menjadi solution maker, tetapi tidak semua solusi yang Anda pikirkan itu mesti diberikan kepada anak buah Anda. Kenapa mesti begitu? Ada dua alasan paling mendasar yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, Anda mesti menjadi solution maker. Dengan menjadi solution maker Anda selalu mempunyai jalan keluar untuk mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi oleh unit kerja yang Anda pimpin. Dibagian mana pun masalah itu muncul. Bisa di si A, si B, si C atau siapa saja dari anggota team Anda. Persoalannya juga bisa tentang ini, ono, unu, atau masalah apapun. Ketika Anda punya solusi untuk mengatasi semua itu, maka ada harapan jika unit kerja Anda akan selamat dan berhasil melalui semua persoalan itu dengan baik kan?

Kedua, Anda mesti memastikan bahwa solusi yang dibuat oleh anak buah Anda itu akurat dan tepat. Tidak ada salahnya jika Anda menuntut anak buah Anda untuk mencari solusi sendiri atas masalahnya dilapangan. Tapi apa jaminan jika solusi yang dibuatnya itu yang terbaik? Dan apa yang akan terjadi jika solusi yang diusulkannya itu ternyata tidak berjalan sesuai harapan? Anda tidak bisa menjawab kedua pertanyaan itu, jika di kepala Anda sendiri pun tidak ada solusi apa-apa. Beda, jika Anda punya solusinya. Maka meskipun Anda tetap mendorong anak buah untuk kreatif mencari solusinya sendiri, Anda masih punya back-up solusi yang bisa diandalkan.

Jika solusi yang dibuat anak buah Anda itu Anda nilai layak untuk dicoba, maka Anda bisa memberinya kesempatan untuk bereksperimen dengan solusi dia sendiri tanpa khawatir kalau gagal. Kenapa mesti khawatir? Toh Anda punya solusi lain dalam kepala Anda sendiri kan? Bayangkan jika kepala Anda kosong. Maka ketika solusi yang ditemukan oleh anak buah Anda itu gagal, Anda pun jadi ikut bingung. Lalu, pasrah saja sama keadaan kan?

Anda – sebagai atasan – wajib menjadi solution maker. Meskipun anak buah Anda sudah membuat solusinya sendiri. Jika ternyata solusi anak buah Anda itu sudah Anda lihat tidak baik, atau tidak cukup baik untuk mengatasi masalah itu; maka Anda akan bisa memberinya advis. Mengarahkannya. Atau memodifikasinya. Atau jika perlu, menolak solusi yang justru mengundang masalah lain yang lebih besar. Tapi ketika Anda menolak itu, Anda nggak cuman mengomel atau mengomentari. Anda memberinya alternative solusi yang lebih baik.

Dengan begitu, maka anak buah Anda akan tetap mandiri. Bereksperimen. Berani mencoba. Tanpa takut salah, atau takut disalahkan. Namun, tidak mesti mengorbankan kinerja team. Karena selain memberi kesempatan kepada anak buah untuk mencari solusinya sendiri, Anda juga sudah mempunyai ancang-ancang solusi terhadap masalah itu. Solusi itu hanya akan Anda keluarkan pada saat dibutuhkan. Jadi, apakah – sebagai seorang atasan – Anda mesti mampu menjadi solution maker? Yes. Sudah sepakat ya. Jika demikian, mari kita mulai dengan membuat daftar tantangan yang tengah Anda hadapi didalam unit kerja yang Anda pimpin. Memilih prioritasnya. Lalu, menemukan solusinya. Insya Allah, Anda akan menjadi pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya.

NB: Akhir tahun kantor Anda mengadakan annual business meeting ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA bicara di forum itu? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 4 Oktober 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Mendidik anak buah untuk mandiri itu penting. Dan melatih diri sendiri untuk menjadi seorang solution maker juga tidak kalah pentingnya

Pekerjaan Kecil Yang Berdampak Besar

P#95: Pekerjaan Kecil Yang Berdampak Besar

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Didunia ini ada begitu banyak jenis pekerjaan. Saya tidak tahu persis, berapa jumlahnya. Namun dari sekian banyak jenis pekerjaan yang dikenal orang itu ada sebuah pekerjaan yang sangat penting. Meskipun pekerjaan itu boleh dibilang ‘kecil’ tetapi dampaknya sungguh sangat besar sekali. Saking besarnya dampak dari pekerjaan kecil itu, sehingga pekerjaan-pekerjaan lain yang besar-besar pun tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak ada pekerjaan kecil itu. Anda bisa membayangkan betapa pentingnya pekerjaan kecil itu kan. Lantas, apakah Anda sudah tahu; apa sih pekerjaan kecil yang sedemikian pentingnya itu?

Sambil memikirkan jawabannya, Anda boleh menyimak uraian berikut ini. Saya mengenal seseorang. Rumahnya di hook dengan kavling besar. Meskipun rumah itu tidak termasuk baru lagi, namun masih bisa terlihat keanggunannya. Pemiliknya sendiri sudah pensiun. Namun jejak-jejak kesuksesannya masih terlihat. Ah, mungkin dia mantan pejabat kali? Orang boleh mengira begitu karena sejauh yang saya tahu di komplek itu ada cukup banyak pensiunan pejabatan tinggi, atau mantan perwira berbintang. Tapi, saya bisa pastikan jika beliau itu bukan pensiunan pejabat tinggi.

Mungkin dia pengusaha? Mmmh, mungkin juga sih. Karena kan yang bisa punya pencapaian tinggi dalam hal materi biasanya dari kalangan pengusaha. Semula saya pun mengira demikian. Soalnya kalau karena ‘kerja’, kerja apa-an sih yang ‘sisa-nya’ bisa sebanyak itu? Dugaan itu pun meleset. Ternyata beliau itu seperti kebanyakan orang lainnya di negeri kita kok. Karyawan saja. Iyya. Karyawan seperti kita. Tapi, dari profesinya sebagai karyawan itu beliau meraih pencapaian diatas rata-rata.

Nggak aneh juga kan ya? Toh banyak juga karyawan yang kaya raya. Gonta ganti mobil baru. Dan rumahnya sudah punya beberapa. Bahkan jika pun memang begitu ceritanya, saya tetap mengagumi pencapaian yang sudah diraihnya. Ini bukan teori. Karena beliau sudah membuktikannya. Bukan dimasa nanti. Melainkan dimasa lalu. Jadi tidak bisa disangkal jika pencapaiannya mengagumkan. Toh tidak banyak juga karyawan yang bisa sukses seperti yang kita sebut sebagai ‘nggak aneh’ itu kan?

Saya pribadi tidak bisa menganggap itu sebagai kisah biasa. Mengapa? Karena kemudian saya tahu sedikit kisahnya. Hal paling penting dari kisah itu adalah; beliau memulai karir dari pegawai yang kalau dizaman kita sekarang dikenal sebagai General Helper. Keren ya jabatannya. Maaf teman, General Helper bukan General Manager. Well, adakah diantara Anda yang membaca artikel saya ini yang saat ini jabatannya sebagai GH alias General Helper itu.

Jika Anda kurang familiar dengan jabatan itu, maka perlu saya jelaskan bahwa GH itu termasuk pekerjaan ‘kecil’. Atau dianggap kecil. Tugasnya kira-kira begini: datang ke kantor paling pagi. Membersihkan ruang kantor, membuang sampah, mengganti gallon kosong, menyiapkan minuman buat boss, memfoto kopi dokumen, dan membelikan makan siang untuk karyawan yang malas keluar dari kantor. Sudah kebayang? Pekerjaan ‘kecil’. Namun karir orang yang saya ceritakan ini ditutup dengan posisi sebagai presiden direktur perusahaan besar.

Jika sudah sama-sama paham, maka kita tahu sekarang bahwa pencapaiannya bukanlah hal biasa-biasa saja. Kebanyakan kita, memulai karir dengan posisi atau title yang lebih mentereng dari itu kan. Tapi pencapaian kita, apakah bisa sampai ke tingkatan itu? Mungkin ada diantara Anda yang begitu. Mungkin juga tidak. Faktanya, kebanyakan kita hanya menjadi mediocre saja ditempat kerja kan. Meskipun kita lulusan perguruan tinggi terbaik. Meskipun gaji pertama kita sangat baik. Sekalipun kita memulai pekerjaan itu dari titik awal yang lebih baik.

Kita menyaksikan bukan hanya beliau saja yang bisa begitu. Ada beberapa orang lainnya yang mungkin punya jalan cerita yang berbeda namun kisah perjalanannya sama. Apakah ini sebuah kebetulan yang menimpa beberapa orang beruntung? Mungkin. Tetapi, tampaknya bukan soal kebetulan dan keberuntungan. Kalau pun memang begitu, mereka melakukan sesuatu yang menjadi jalan kebetulan dan keberuntungan itu mendatangi dirinya. Mengapa saya meyakini hal itu? Karena dari kisah orang-orang ini saya menemukan sebuah kesamaan. Dalam bersikap. Dan dalam bertindak. Dalam bekerja. Saya yakin, Anda juga telah menemukan kesamaan itu diantara mereka.

Sekedar mengecek apakah temuan kita sama atau tidak. Inilah temuan saya; orang-orang ini menganggap pekerjaannya yang ‘kecil’ itu sebagai sesuatu yang saaaangat penting. Mereka melakukannya dengan saaaaaangat baik. Dan mereka melakukannya dengan sepenuh kesungguhan hati. Dari sikap dan cara kerja itulah mereka mampu menjadikan pekerjaannya yang kecil memberikan dampak yang besar. Pasti ada bedanya antara lantai yang disapu bersih dengan yang asal saja kan? Ada bedanya antara gelas yang dicuci bersih dengan yang masih menyisakan noda kan? Dan ada bedanya antara file-file yang ditata rapi dengan yang asal tergeletak. Pastinya ada juga bedanya antara pekerjaan yang dilakukan sepenuh hati dengan yang selesai karena terpaksa atau terburu-buru supaya cepat kelar.

Dampak besar itu dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Oleh kolega-koleganya. Oleh atasan-atasannya. Dan. Dampak paling besar pada akhirnya dirasakan oleh diri mereka sendiri. Ketika orang lain menganggapnya sebagai karyawan ‘kecil’ yang luar biasa. Saat seseorang menganggap bahwa pekerja kecil itu layak diberi kepercayaan yang lebih besar. Ketika orang-orang menyadari bahwa kemampuan dirinya melampaui tugas-tugas lebih besar yang selama ini diberikan kepadanya. Dan, ketika hasilnya mereka rasakan lalu dibawa pulang untuk keluarganya.

Inilah pekerjaan kecil yang berdampak besar itu. Anda punya jawaban yang sama? Saya harap tidak. Saya sedih jika Anda begitu. Mengapa? Karena ‘office boy-lah pekerjaan kecil yang berdampak besar’ itu hanya berlaku bagi mereka yang bekerja sebagai office boy. Hal itu, tidak berlaku bagi orang yang status pekerjaannya bukan office boy. Maka jika pekerjaan Anda sekarang bukan office boy, Anda tidak bisa menggunakan jawaban yang sama. Sebab, pekerjaan kecil yang berdampak besar bagi Anda bukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain. Melainkan oleh diri Anda sendiri.

Lihatlah apa peran yang Anda mainkan dalam proses bisnis di kantor Anda. Itulah pekerjaan yang bakal membawa dampak besar bagi Anda. Anda jadi apa disana? Sekretaris? Salesman. Supervisor. Data entry. Tukang tagih. Tukang mengurusi barang digudang. Tukang gambar proyek. Itulah pekerjaan yang bisa memberi dampak besar melalui tangan Anda. Dan ketika Anda melihat bahwa apapun dan sekecil apapun yang Anda lakukan itu sedemikian pentingnya, maka Anda melihat bahwa itu semua patut untuk dilakukan dengan sebaik-baiknya. Adakah muara yang lebih baik bagi setiap pekerjaan yang dilakukan dengan baik selain dampak yang besar?

Dan adakah orang yang lebih tepat untuk menerima imbalan terbaiknya melebihi orang yang melakukannya? Bahkan sekalipun tidak didapatkannya didunia, namanya akan tertera dalam lembaran langit. Yang menuliskan daftar orang-orang yang telah mengabdikan dirinya untuk kebaikan orang-orang yang ada disekitarnya. Meski bumi kadang keliru ketika mengalungkan medali. Namun langit melihat segalanya. Sehingga tiap tetes hadiahnya akan jatuh hanya kepada yang layak menerimanya. Yaitu, orang yang melakukannya. Andakah orang itu sahabatku? Ataukah saya? Ataukah kita?

NB: Akhir tahun kantor Anda mengadakan annual business meeting ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA berbicara di forum itu? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 7 Oktober 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Tidak ada hasil pekerjaan yang bagus selain dari pekerjaan yang dilakukan dengan hati tulus. Meski pekerjaan itu kecil. Ketulusan dalam melakukannya memberikan dampak yang yang besar.