Bukan Sekedar Mengikuti Tradisi

 L#63:  Bukan Sekedar Mengikuti Tradisi 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Setiap pemimpin, lahir dari hasil didikan pemimpin lainnya. Makanya, cara kita memimpin cenderung mirip dengan cara senior-senior kita memimpin. Coba perhatikan, apakah cara Anda memimpin anak buah memiliki kemiripan dengan pola kepemimpinan mantan atasan Anda nggak? Kayaknya sih iyya ya. Karena kita mempraktekkan apa yang kita pelajari dari orang lain. Mungkin tidak 100% sama, tapi polanya mirip. Namanya mirip kan tidak sama persis. Tapi kerasa banget kesamaannya. Bagus? Bagus aja sih. Kalau cara mantan atasan Anda memimpin itu bagus. Tapi, bagaimana jika dulu atasan Anda memimpin dengan cara yang buruk? Boleh jadi kita juga meniru yang buruk-buruknya. Mungkin? Mungkin saja. Tapi boleh jadi, kita tidak menyadarinya.
 
Beberapa hari lalu ada seorang calon mahasiswa diberitakan tewas saat ikut ospek. Ironi dunia pendidikan yang berulang nyaris dari tahun ke tahun. Saya tidak akan menghakimi ketidakmampuan institusi pendidikan dan menteri Pendidikan RI dalam mencegah kejadian serupa. Cukup mengenang masa silam saja ketika pertama kali masuk ke kampus. Saya dan beberapa teman lainnya dengan tegas menolak mengikuti ospek. Meskipun kami paham konsekuensinya. Yang paling lucu dari semua itu adalah; cara kakak kelas meng-os anak baru, ternyata meniru cara para seniornya ketika meng-os mereka dulu. Dengan kata lain, mereka meniru perlakuan yang mereka alami dari seniornya, lalu menerapkan cara itu kepada yunior-yuniornya. Mereka bilang; “inilah tradisi jurusan kami!”
 
Disadari atau tidak, dikantor-kantor ada kecenderungan jika pemimpin-pemimpin baru meniru perlakuan atasan mereka. Lalu mereka menerapkan cara yang sama untuk memimpin anak buahnya. Dan secara tidak langsung, mereka ini pun menganggap ‘inilah tradisi kami!’. Apakah ini sebuah kejahatan? Bukan. Ini adalah sesuatu yang kita tahu tentang bagaimana cara kita melakukan sesuatu. Karena kita tahunya begitu, ya maka kita melakukannya dengan cara seperti itu kan. Dulu, kita dipimpin atasan dengan cara dan perlakuan seperti itu. Lalu kita mengira bahwa cara memimpin itu ya begitu itu. Maka ketika kita mendapatkan promosi, kita pun menjalankan amanah kepemimpinan ini seperti cara kita dulu dipimpin atasan.
 
Saya tanya teman seangkatan yang meng-os anak baru; “kok kamu memperlakukan orang lain seperti itu sih?” Dengan polosnya dia bilang; “Kan kalau os memang begini, Dang….”
 
Hanya karena kita belajar memimpin dari cara atasan memimpin kita, sama sekali tidak berarti bahwa cara memimpin seperti itulah yang tepat. Boleh jadi memang beliau memimpin dengan cara yang sangat baik. Meniru caranya memimpin akan menjadikan kita pemimpin yang baik juga kan? Tetapi, kalau ternyata cara memimpinnya itu buruk; kita menjadi pemimpin yang sama buruknya dengan orang itu kan?
 
Jadi, bagaimana dong supaya terhindar dari hal semacam itu?
Sederhana saja sih. Belajarlah untuk mencerna setiap input yang masuk kedalam otak dan hati kita. Dengan begitu, kita masih bisa membedakan mana yang baik untuk diteruskan. Dan mana praktek-praktek buruk yang mesti kita tinggalkan. Dengan demikian, kita memimpin unit kerja ini bukan lagi sekedar mengikuti tradisi belaka. Kita, memiliki daya kritis sehingga bisa membedakan mana tradisi yang layak diteruskan dan mana yang mesti dihentikan.
 
Inilah sebenarnya tahapan yang akan mendewasakan kualitas kepemimpinan kita. Yaitu tahapan dimana kita sadar bahwa memimpin itu sama sekali bukan soal kebiasaan lama yang diteruskan dari generasi ke generasi. Karena, cara seperti itu hanya melanggengkan tradisi-tradisi yang belum tentu sesuai. Bukan hanya sesuai dengan zaman, terlebih lagi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Menggunakan daya pikir dan nurani kita, bisa memfilter tradisi buruk, sekaligus melestarikan tradisi yang baik. Dengan begitu, maka organisasi kita bisa berkembang menjadi lebih baik.
 
Mengapa mesti Anda yang memulainya? Karena anak buah Anda, tidak bisa melakukannya. Mereka hanya menerima saja perlakuan dari atasannya. Jika ada tradisi memimpin yang buruk pun mereka hanya bisa pasrah saja. Andalah yang bisa mengubahnya dengan menerapkan cara memimpin yang lebih baik. Sehingga sejak tampuk kepemimpinan itu ada ditangan Anda, segala sesuatunya bisa berubah menjadi lebih baik.
  
Saya paham bahwa pemimpin-pemimpin baru seperti kita kadang kekurangan ilmu dan pengalaman. Tetapi percayalah bahwa; nalar dan nurani yang sehat bisa membimbing kita untuk menemukan cara memimpin yang lebih baik dari sekedar tradisi selama ini. Sambil menggunakan nalar dan nurani itu, kita belajar lagi. Membaca referensi yang lebih banyak. Dan melihat, bagaimana pemimpin-pemimpin baik diluar lingkaran itu menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinannya. Insya Allah, dengan begitu; Anda memimpin bukan hanya sekedar mengikuti tradisi. Melainkan memimpin dengan pola pikir yang lebih tercerahkan, dan rasa serta sifat welas asih yang lebih menenteramkan.
 
Temukan cara memimpin yang lebih baik itu didalam nalar dan hati nurani Anda. Supaya Anda bisa mempertanggungjawabkan seluruh aspek kepemimpinan Anda. Jika hanya sekedar mengikuti tradisi, kita kan tidak mungkin bisa bertanggungjawab secara utuh bukan? Paling-paling kita hanya mengatakan bahwa begitulah cara yang kita pelajari dari para pendahulu kita. Entah mereka benar. Entah mereka salah. Telan saja mentah-mentah. Oh, bukan begitu sifat seorang pemimpin. Karena jika sekedar mengikuti tradisi, berarti kita bukan pemimpin.
 
“Memangnya salah kalau kita mengikuti tradisi?”
Tidak sepenuhnya salah sih. Jika tradisi itu baik. Namun, jauh lebih baik lagi jika kita merenungkan; apakah tradisi itu layak diteruskan atau bisa diganti dengan sesuatu yang baru, yang tentunya lebih baik. Bukankah begitu cara seorang leader tulen bersikap dan berpikir?
  
Ingatlah sahabat. Amanah kepemimpinan yang kita emban ini akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Tuhan. Jika cara kita memimpin ini hanya sekedar mengikuti tradisi, saya khawatir kita termasuk oorang-orang yang digambarkan Tuhan dalam firmanNya pada surah 2 (Al-Baqarah) ayat 170. Disana Allah menggambarkan orang-orang yang menolak diajak kritis pada tradisi.
 
Mereka bilang;
“Tidak. Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami ketika mereka melakukannya.” Jika kita hanya mengikuti tradisi atasan-atasan kita, boleh jadi ayat ini kena pada kita. Padahal nenek moyang atau para pendahulu kita itu belum tentu memimpin dengan cara dan praktek yang baik. Dan ketika memimpin dulu, belum tentu mereka mendapatkan petunjuk dari Ilahi kan? Mari renungkan kembali tradisi-tradisi memimpin yang selama ini berlaku ditempat kita. Mari belajar memimpin dengan nalar dan hati nurani. Insya Allah, kita akan menjadi pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan pemimpin yang sekedar mengikuti tradisi.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman –  3 Desem
ber 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:Kalau kita pemimpin tulen, cara memimpin kita pasti tidak sekedar meniru mantan-mantan atasan kita. Kita menggunakan nalar dan nurani untuk menilai apakah tradisi memimpin selama ini baik atau buruk. Yang baik kita teruskan. Yang buruk kita hentikan. Begitu, baru pemimpin namanya.
 
Ingin mendapatkan kiriman “L (= Leaderism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/ 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
www.dadangkadarusman.com
Dare to invite Dadang to speak for

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *