Daily Archives: February 13, 2014

L#69: Kemampuan Mengambil Keputusan

L#69: Kemampuan Mengambil Keputusan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Salah satu tugas penting kita sebagai pemimpin adalah ‘mengambil keputusan’. Semakin tinggi jabatan kita, bobot keputusan yang kita ambil pun menjadi semakin tinggi. Dampaknya semakin besar. Dan tentu saja, resikonya pun semakin bertambah pula. Jika sebagai pemimpin unit kerja kita tidak bisa mengambil keputusan yang tepat, maka bisa dibayangkan akibatnya kan. Lantas, apakah mengambil keputusan itu selalu mudah dilakukan? Tidak selalu sih pastinya. Kadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit kan? Terus, gimana dong jika demikian.

Diantara keluhan yang sering mengemuka di kelas-kelas training kepemimpinan yang saya fasilitasi adalah penilaian para senior leaders terhadap para manager atau supervisor yang mereka pimpin dalam hal pengambilan keputusan. Cukup banyak loh senior leader yang menilai anak buahnya belum terampil dalam mengambil keputusan. Malah masih bergantung kepada boss besarnya. Padahal – kata mereka – mestinya kan di level itu bisa mereka selesaikan sendiri dong. Jika Anda tertarik untuk memenuhi harapan top management itu, saya ajak Anda memahami dan mempraktekkan 5 aspek Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

1. Tidak ada keputusan yang benar 100%. Kita takut mengambil keputusan antara lain karena takut salah. Padahal, tidak seorang pun yang bisa mengambil keputusan yang dijamin 100% benarnya. Tidak ada juga keputusan yang bisa menyenangkan semua orang. Jadi, tidak perlu takut mengambil keputusan. Justru takutlah kalau tidak mengambil keputusan. Karena mengambil keputusan adalah tugas kepemimpinan kita. Kalau kita takut salah mengambil keputusan lalu kita jadi lebih berhati-hati, lebih teliti, lebih waspada; itu baik. Tapi kalau kita takut hingga tidak berani atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan maka itu pertanda kualitas kepemimpinan kita yang belum baik. Beranilah mengambil keputusan. Karena itu tugas kita.

2. Pahami otoritas dan gunakan sebaik-baiknya. Jabatan kita disertai dengan otoritas atau kewenangan yang memungkinkan kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang melekat pada jabatan itu. Misalnya, berapa % diskon yang boleh kita berikan kepada pelanggan tanpa harus konsultasi kepada atasan. Atau, berapa biaya yang boleh dikeluarkan untuk mendukung sebuah event. Memahami otoritas itu sangat membantu kecepatan dan efektivitas pengambilan keputusan. Jika keputusan itu masih dalam otoritas kita, kenapa mesti ‘nelfon’ atasan dulu kan. Jika kita tidak paham otoritas dan batasannya bisa-bisa kita takut mengambil keputusan, atau berani; tapi menyalahi kewenangan yang ada kan?

3. Bantu kolega atau atasan dengan alternatif solusinya. Kalau keputusan atas penyelesaian suatu masalah itu ada dalam batas otoritas kita, ya kita putuskanlah. Tapi, tidak semua masalah yang kita hadapi keputusannya ada dalam otoritas kita kan? Bisa jadi, otoritasnya ada pada kolega kita di team lain. Atau pada atasan yang lebih tinggi. Meski begitu, kita tidak bisa cuek bebek saja, jika masalah itu juga menyangkut unit kerja kita. Sehingga, kita perlu membantu kolega yang pemimpin unit lain atau atasan itu dengan memberi mereka pilihan solusinya. Soalnya kalau masih menyangkut team kita, ada kepentingan kita kan. Dengan begitu, mereka bisa melihat peluang penyelesaiannya dengan lebih cepat dibandingkan mereka harus memikirkannya dari awal kan. Dan unit kerja kita bisa merasakan manfaatnya juga.

4. Perhatikan gejalanya, selesaikan akar masalahnya. Kita sudah sejak lama mengambil keputusan, dan masalah pun bisa diatasi dengan baik. Tapi, kenapa masalah yang sama kerap muncul berulang-ulang? Itu karena kita hanya menyelesaikan ‘symptom’ atau gejala yang tampak dipermukaan saja. Kita, tidak menyelesaikan akar masalahnya. Seperti Anda menebang pohon pisang. Dia akan tumbuh lagi, dan terus tumbuh lagi meski ditebang lagi. Kecuali jika Anda membongkar akarnya. Masalah pun sama. Akan muncul lagi dan terus muncul lagi, jika kita tidak menyelesaikan akar masalahnya. Gejala atau dampaknya memang penting untuk ditangani. Tapi, akar masalahnya itu mesti dituntaskan.

5. Pastikan eksekusinya berjalan sebaik mungkin. Buruknya hasil dari keputusan yang kita ambil seringkali bukanlah disebabkan oleh keputusan itu sendiri. Melainkan, karena buruknya eksekusi atau implementasi keputusan yang sudah kita ambil itu. Keputusannya sudah benar, tapi eksekusinya buruk. Hasilnya? Pasti buruk. Sekarang coba lihat lagi dikantor Anda, lebih banyak eksekusi yang bagus atau yang buruk? Kalau masalah ditempat kerja Anda tidak kunjung selesai; kemungkinan eksekusi yang buruk lebih banyak dari eksekusi yang baik. Perhatikan anak buah Anda. Kolega Anda. Orang-orang yang terkait dengan eksekusi itu. Apakah mereka sudah melakukan peran masing-masing dengan baik? Biasanya, inilah titik kritisnya.

Setiap orang yang punya jabatan, pasti harus mengambil keputusan. Maka salah satu cara mengukur apakah kita sudah menjadi pemimpin yang bagus atau belum adalah dari bagaimana kita mengambil keputusan itu. Kalau kita sudah terampil mengambil keputusan, maka mungkin kita sudah menjadi pemimpin yang lebih baik. Tapi kalau kita masih ragu, takut, atau ‘sembunyi dibawah ketiak’ boss kita untuk mengambil keputusan penting; artinya, kita mesti lebih serius lagi mempertajam kemampuan dalam proses pengambilan keputusan itu. Dengan begitu, kelak kita bisa menjadi pemimpin yang lebih baik kan? In sya Allah.

Tahun ini kantor Anda mengadakan training kan ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA sebagai trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Januari 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

P#117: Teng-Go…….

P#117: Teng-Go…….

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Kita lazim menyebutnya sebagai ‘teng-go’. Begitu ‘teng’ jam 5, kita langsung ‘go’. Meski zaman sekarang jam sudah tidak bunyi ‘teng’ lagi, tapi begitu jam 5 tiba; kita tetap langsung ‘go’ juga. Salah nggak sih kalau kita teng-go?

Nggak salah. Karena lazimnya kan jam kerja itu jam 8 sampai jam 5. Jadi, pulang jam 5 sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Sekalipun begitu, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal. Misalnya:

Pagi tadi kita masuk kantor telat gak? Kan nggak lucu kalau masuk kantor telat, tapi pulangnya cepat. Pasti total jam kerja kita kurang kan? Kita suka bercanda begini; ‘jangan mengulangi kesalahan 2 kali. Masuk sudah telat, ya pulangnya jangan telat lagi dong’. Hahaha. Lucu sih. Tapi tidak profesional.

Terus. Kita ini ingin karir yang lebih dari sekedar ‘biasa-biasa saja’ nggak? Hampir bisa dipastikan jika semua karyawan ingin karirnya istimewa. Tapi, hanyak sedikit banget yang usahanya, kegigihannya, keuletannya luar biasa.

Mengharapkan hasil luar biasa dengan usaha yang sama dengan kebanyakan orang? Hmmmh… Mesti dipikirkan lagi peluangnya keberhasilannya tuch.

Saya paham, bahwa tinggal lebih lama dikantor tidak selalu berarti baik. Malah ada yang lembur karena kurang pandai mengelola waktu kan katanya. Kalau time managementnya baik, pasti tidak mesti kerja selama itu.

Iyya. Tapi pembandingnya jangan dengan orang yang buruk dong. Kalau ingin sukses didunia kerja yang penuh kompetisi ini, maka kita mesti menjadikan para profesional hebat sebagai perbandingnya. Bukan yang cetek gitu dong.

Ide dasarnya begini; kita ini sudah dianugerahi potensi tinggi. Tempat kerja yang baik. Peluang yang banyak. Mau nggak, kita mengoptimalkan semua kebaikan itu untuk meraih pencapaian yang tinggi?

Jika mau. Maka kita mesti membebaskan diri dari kebiasaan orang lain pada umumnya. Misalnya yang teng-go itu. Dan orang yang tak pandai mengelola waktu itu.

Bayangkan jika Anda bekerja dengan durasi lebih lama dari orang lain. Dan mengatur waktu lebih efektif dari orang lain. Produktivitas Anda pasti lebih tinggi kan? Maka peluang Anda untuk lebih sukses dari orang lain pun terbuka lebih lebar.

Bagaimana, apakah Anda bersedia untuk membuang kebiasaan teng-go? Oh, hari ini sudah terlanjur teng-go? Baiklah. Mulai besok, dipraktekkan oke.

Oh, masih butuh lebih banyak ilmu dan dorongan? Gampanglah itu. Sering-sering aja mampir ke www.dadangkadarusman.com Oke.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 23 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

P#118: Work From Home Itu….

P#118: Work From Home Itu….

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Anda mendambakan untuk bekerja dari rumah alias work from home – WFH – kan? Ayolah. Mengaku saja. Bayangkan jika Anda seorang Ibu rumah tangga yang bekerja. Bisa bekerja dari rumah, tentu sangat memudahkan urusan Anda. Urusan kantor selesai. Urusan anak-anak juga selesai kan? Kalau Anda lelaki pun sama. Meski tidak harus mengurusi anak-anak, tetap saja Anda tidak menyukai kemacetan yang setiap hari Anda hadapi saat ngantor kan? Belum lagi kalau Anda males ketemu boss yang bawel itu. Kalau boleh bekerja dari rumah, pastinya nikmat banget dong. Anda mau kan?

Dikantor tempat saya bekerja dulu, pembicaraan tentang WFH sempat mengemuka. Bahkan kami pernah melakukan kajian tentang kemungkinan diberlakukannya hal tersebut. Dari sisi karyawan sih tentu senang banget. Siapa yang tidak suka dibolehkan bekerja tanpa harus pergi ke kantor kan? Bayaran jalan terus. Tapi kita boleh berada di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas harian. Sedap banget. Itu dari sudut pandang karyawan. Dari sudut pandang perusahaan, bagaimana?

Sebenarnya, perusahaan lebih menginginkan hasil kerja dibandingkan dengan kehadiran karyawan. Namun apakah ada jaminan bahwa kinerja karyawan akan baik jika mereka diizinkan untuk bekerja dari rumah? Tentu mudah kalau sekedar menjawabnya kan. Bilang saja ‘Dijamin!’. Tapi, bisakah realisasinya seperti yang dijanjikan? Ini masih tanda tanya besar.

Karyawan itu, ada dikantor saja masih suka ‘bermain-main’ dengan waktu. Bekerja di kantor yang diawasi atasannya saja masih menganggap sepele soal kinerja dan kedisiplinan. Apakah keadaannya akan lebih baik jika mereka bekerja dari rumahnya sendiri? Itu loh antara lain rintangan paling besar kenapa WFH tidak bisa dijalankan. Bagaimanapun juga, perusahaan tidak akan mengambil resiko sebesar itu.

Bukan berarti hal itu tidak mungkin. Mungkin saja kok. Tetapi jelas sekali bahwa kebijakan WFH ini tidak bisa diberlakukan secara umum. Hanya karyawan-karyawan yang mempunyai ‘kualifikasi’ tertentu saja yang bisa diberi kepercayaan itu. Dan jumlah karyawan yang seperti itu hanya sedikit sekali. The Wall Street Journal misalnya pernah mempublikasikan artikel yang menjelaskan bahwa pada tahun 2010 di US, ada sekitar 6,6% professional yang bekerja dari rumah. Angka itu sudah termasuk para self-employed.

Jadi di Negara maju pun masih sedikit orang yang dinilai pantas untuk bekerja dari rumah. Apalagi di Negara yang karyawannya doyan demo seperti negeri kita ini kan? Meski begitu, tidak berarti kita tidak bisa loh. Jika kita memenuhi kualifikasi orang yang langka itu kan oke juga. Lagian, bagus juga kan kalau kita menjadi professional yang lebih baik dari orang lain. Meskipun tidak menjalani WFH, tetap saja kita dinilai sebagai karyawan yang unggul. Kalau mau unggul seperti itu, beberapa kualifikasi berikut ini mesti kita miliki.

Pertama, integritas diri. Nggak mudah kan menjaga integritas diri. Khususnya ketika tidak ada yang mengawasi. Kalau ada yang ngawasi mah mudah. Secara otomatis kita akan jujur, baik, dan berdedikasi. Tapi apakah kita bisa tetap menjaga kejujuran kebaikan dan dedikasi itu jika bekerja sendiri? Nggak semudah itu. Namun juga nggak sulit-sulit amat kok. Kalau kita percaya bahwa Tuhan senantiasa melihat setiap tindakan dan perbuatan kita. Maka kita tidak akan berani berbuat yang ‘aneh-aneh’ kan. Rasulullah menyebutnya sebagai sikap ‘Ihsan’. Yaitu kesadaran diri bahwa Allah selalu mengawasi. Hanya jika memiliki integritas diri yang tinggi saja kita bisa dipercaya kan?

Kedua, menjaga kinerja. Apapun pekerjaan kita, pasti dituntut untuk memberikan hasil kan? Nggak ada perusahaan yang nggak nuntut hasil. Karena dengan apa yang kita hasilkan itulah perusahaan punya kemampuan untuk membayar gaji. Jadi jangan sakit hati kalau ditanya hasil melulu. Jangan merasa diperbudak kalau dituntut untuk terus meningkatkan produktivitas. Namanya juga kerja kan? Kesadaran seperti ini penting. Supaya kita bisa memastikan bahwa buat perusahaan, kita ini berharga. Jika dikantor saja kinerja kita buruk, apalagi boleh kerja dari rumah kan? Maka mulai sekarang, pastikan bahwa setiap hari Anda bisa memberikan hasil atau kinerja bagus buat perusahaan.

Ketiga, sikap dan perilaku kerja. Kita semua dibayar untuk bekerja. Ukurannya bisa jam. Bisa jumlah atau nilai proyek. Bisa macam-macam. Kita menyebutnya KPI. Angka dan benda gampang menghitungnya. Kalau yang bukan angka dan benda, bagaimana mengukurnya? Tentu dari perilaku dan tingkah polah sehari-hari kan? Anda tidak mungkin dipercaya untuk WFH kalau sikap dan perilaku kerja selama dikantor masih belum bagus. Kalau sering telat masuk kantor misalnya. Mana cocok WFH? Kalau sering bikin masalah juga sama. Maka, penting bagi kita untuk membangun sikap dan menunjukkan perilaku kerja yang baik mulai sekarang.

Saya bisa mengerti jika Anda merasa semua itu sia-sia. Toh nggak bakal dikasih WFH kok sama kantor. Jadi ngapain mesti susah-susah begitu? Kerja nyantai ajalah. Iyya kan? Saya paham soal itu. Tapi, pernakah Anda membayangkan bahwa Anda tidak akan selamanya bekerja disitu? Akan tiba saatnya Anda harus berhenti dan tidak diterima lagi bekerja dimana pun. Meski Anda suka, tapi Anda bakal pensiun juga kan? Bisa langsung nyantai emang kalau pensiun? Maunya sih begitu. Nyatanya kan kita mesti terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ayolah. Begitu faktanya kan?

Sahabatku. Disaat kita harus berjuang sendiri itulah justru kita membutuhkan semua kualifikasi bagus yang kita bangun selama masih bekerja itu. Jika kita baru membangun semua kualifikasi itu tepat disaat pensiun, ya telat dong. Nggak bakal sempat lagi. Justru sekaranglah saatnya untuk mulai melatih diri. Supaya saat pensiun nanti, kita relatif bisa lebih siap dibandingkan dengan mereka yang lengah dan berleha-leha semasa masih kerja. Tentu saya tidak bisa menjamin hidup Anda bakal tetap baik-baik saja setelah tidak bekerja nanti. Tapi tetap lebih baik kan kalau sejak sekarang kita melatih diri agar bisa diandalkan saat harus bekerja dari rumah?

Anda boleh saja jika mengira saya cuman omong teori doang. Tapi izinkan saya untuk menyampaikan kepada Anda bahwa saat ini; saya bekerja dari rumah. Namun harus saya akui bahwa itu tidaklah mudah. Sekalipun demikian, keberanian saya untuk melakukannya dimulai dari persiapan sejak masih bekerja sebagai seorang professional. Sewaktu masih menjadi karyawan seperti Anda, saya memang sudah meniatkan untuk bekerja bersungguh-sungguh meskipun tidak diawasi terus oleh atasan. Karena saya percaya bahwa; apa yang saya kerjakan hari ini, akan menjadi bekal saya dikemudian hari. Dan saya percaya bahwa apa yang Anda kerjakan hari ini, akan menjadi bekal Anda juga dikemudian hari.

Jadi, sebenarnya tidak penting apakah kantor kita akan memberi kesempatan WFH atau tidak. Yang penting itu adalah apakah kita memiliki kemampuan untuk WFH atau tidak. Sebab, cepat atau lambat; kita akan dihadapkan pada kenyataan hidup yang menuntut kita untuk WFH entah suka rela atau terpaksa. Ketika tidak ada lagi kantor yang mau mempekerjakan kita, keadaan akan tetap baik-baik saja. Kalau kita sudah menyiapkan diri untuk bisa WFH. Anda sudah siap melakukannya? Jika belum. Mari belajar dan mempersiapkan diri; sekarang juga.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 29 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D