L#69: Kemampuan Mengambil Keputusan

L#69: Kemampuan Mengambil Keputusan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Salah satu tugas penting kita sebagai pemimpin adalah ‘mengambil keputusan’. Semakin tinggi jabatan kita, bobot keputusan yang kita ambil pun menjadi semakin tinggi. Dampaknya semakin besar. Dan tentu saja, resikonya pun semakin bertambah pula. Jika sebagai pemimpin unit kerja kita tidak bisa mengambil keputusan yang tepat, maka bisa dibayangkan akibatnya kan. Lantas, apakah mengambil keputusan itu selalu mudah dilakukan? Tidak selalu sih pastinya. Kadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit kan? Terus, gimana dong jika demikian.

Diantara keluhan yang sering mengemuka di kelas-kelas training kepemimpinan yang saya fasilitasi adalah penilaian para senior leaders terhadap para manager atau supervisor yang mereka pimpin dalam hal pengambilan keputusan. Cukup banyak loh senior leader yang menilai anak buahnya belum terampil dalam mengambil keputusan. Malah masih bergantung kepada boss besarnya. Padahal – kata mereka – mestinya kan di level itu bisa mereka selesaikan sendiri dong. Jika Anda tertarik untuk memenuhi harapan top management itu, saya ajak Anda memahami dan mempraktekkan 5 aspek Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

1. Tidak ada keputusan yang benar 100%. Kita takut mengambil keputusan antara lain karena takut salah. Padahal, tidak seorang pun yang bisa mengambil keputusan yang dijamin 100% benarnya. Tidak ada juga keputusan yang bisa menyenangkan semua orang. Jadi, tidak perlu takut mengambil keputusan. Justru takutlah kalau tidak mengambil keputusan. Karena mengambil keputusan adalah tugas kepemimpinan kita. Kalau kita takut salah mengambil keputusan lalu kita jadi lebih berhati-hati, lebih teliti, lebih waspada; itu baik. Tapi kalau kita takut hingga tidak berani atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan maka itu pertanda kualitas kepemimpinan kita yang belum baik. Beranilah mengambil keputusan. Karena itu tugas kita.

2. Pahami otoritas dan gunakan sebaik-baiknya. Jabatan kita disertai dengan otoritas atau kewenangan yang memungkinkan kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang melekat pada jabatan itu. Misalnya, berapa % diskon yang boleh kita berikan kepada pelanggan tanpa harus konsultasi kepada atasan. Atau, berapa biaya yang boleh dikeluarkan untuk mendukung sebuah event. Memahami otoritas itu sangat membantu kecepatan dan efektivitas pengambilan keputusan. Jika keputusan itu masih dalam otoritas kita, kenapa mesti ‘nelfon’ atasan dulu kan. Jika kita tidak paham otoritas dan batasannya bisa-bisa kita takut mengambil keputusan, atau berani; tapi menyalahi kewenangan yang ada kan?

3. Bantu kolega atau atasan dengan alternatif solusinya. Kalau keputusan atas penyelesaian suatu masalah itu ada dalam batas otoritas kita, ya kita putuskanlah. Tapi, tidak semua masalah yang kita hadapi keputusannya ada dalam otoritas kita kan? Bisa jadi, otoritasnya ada pada kolega kita di team lain. Atau pada atasan yang lebih tinggi. Meski begitu, kita tidak bisa cuek bebek saja, jika masalah itu juga menyangkut unit kerja kita. Sehingga, kita perlu membantu kolega yang pemimpin unit lain atau atasan itu dengan memberi mereka pilihan solusinya. Soalnya kalau masih menyangkut team kita, ada kepentingan kita kan. Dengan begitu, mereka bisa melihat peluang penyelesaiannya dengan lebih cepat dibandingkan mereka harus memikirkannya dari awal kan. Dan unit kerja kita bisa merasakan manfaatnya juga.

4. Perhatikan gejalanya, selesaikan akar masalahnya. Kita sudah sejak lama mengambil keputusan, dan masalah pun bisa diatasi dengan baik. Tapi, kenapa masalah yang sama kerap muncul berulang-ulang? Itu karena kita hanya menyelesaikan ‘symptom’ atau gejala yang tampak dipermukaan saja. Kita, tidak menyelesaikan akar masalahnya. Seperti Anda menebang pohon pisang. Dia akan tumbuh lagi, dan terus tumbuh lagi meski ditebang lagi. Kecuali jika Anda membongkar akarnya. Masalah pun sama. Akan muncul lagi dan terus muncul lagi, jika kita tidak menyelesaikan akar masalahnya. Gejala atau dampaknya memang penting untuk ditangani. Tapi, akar masalahnya itu mesti dituntaskan.

5. Pastikan eksekusinya berjalan sebaik mungkin. Buruknya hasil dari keputusan yang kita ambil seringkali bukanlah disebabkan oleh keputusan itu sendiri. Melainkan, karena buruknya eksekusi atau implementasi keputusan yang sudah kita ambil itu. Keputusannya sudah benar, tapi eksekusinya buruk. Hasilnya? Pasti buruk. Sekarang coba lihat lagi dikantor Anda, lebih banyak eksekusi yang bagus atau yang buruk? Kalau masalah ditempat kerja Anda tidak kunjung selesai; kemungkinan eksekusi yang buruk lebih banyak dari eksekusi yang baik. Perhatikan anak buah Anda. Kolega Anda. Orang-orang yang terkait dengan eksekusi itu. Apakah mereka sudah melakukan peran masing-masing dengan baik? Biasanya, inilah titik kritisnya.

Setiap orang yang punya jabatan, pasti harus mengambil keputusan. Maka salah satu cara mengukur apakah kita sudah menjadi pemimpin yang bagus atau belum adalah dari bagaimana kita mengambil keputusan itu. Kalau kita sudah terampil mengambil keputusan, maka mungkin kita sudah menjadi pemimpin yang lebih baik. Tapi kalau kita masih ragu, takut, atau ‘sembunyi dibawah ketiak’ boss kita untuk mengambil keputusan penting; artinya, kita mesti lebih serius lagi mempertajam kemampuan dalam proses pengambilan keputusan itu. Dengan begitu, kelak kita bisa menjadi pemimpin yang lebih baik kan? In sya Allah.

Tahun ini kantor Anda mengadakan training kan ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA sebagai trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Januari 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *