Monthly Archives: February 2014

P#118: Work From Home Itu….

P#118: Work From Home Itu….

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Anda mendambakan untuk bekerja dari rumah alias work from home – WFH – kan? Ayolah. Mengaku saja. Bayangkan jika Anda seorang Ibu rumah tangga yang bekerja. Bisa bekerja dari rumah, tentu sangat memudahkan urusan Anda. Urusan kantor selesai. Urusan anak-anak juga selesai kan? Kalau Anda lelaki pun sama. Meski tidak harus mengurusi anak-anak, tetap saja Anda tidak menyukai kemacetan yang setiap hari Anda hadapi saat ngantor kan? Belum lagi kalau Anda males ketemu boss yang bawel itu. Kalau boleh bekerja dari rumah, pastinya nikmat banget dong. Anda mau kan?

Dikantor tempat saya bekerja dulu, pembicaraan tentang WFH sempat mengemuka. Bahkan kami pernah melakukan kajian tentang kemungkinan diberlakukannya hal tersebut. Dari sisi karyawan sih tentu senang banget. Siapa yang tidak suka dibolehkan bekerja tanpa harus pergi ke kantor kan? Bayaran jalan terus. Tapi kita boleh berada di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas harian. Sedap banget. Itu dari sudut pandang karyawan. Dari sudut pandang perusahaan, bagaimana?

Sebenarnya, perusahaan lebih menginginkan hasil kerja dibandingkan dengan kehadiran karyawan. Namun apakah ada jaminan bahwa kinerja karyawan akan baik jika mereka diizinkan untuk bekerja dari rumah? Tentu mudah kalau sekedar menjawabnya kan. Bilang saja ‘Dijamin!’. Tapi, bisakah realisasinya seperti yang dijanjikan? Ini masih tanda tanya besar.

Karyawan itu, ada dikantor saja masih suka ‘bermain-main’ dengan waktu. Bekerja di kantor yang diawasi atasannya saja masih menganggap sepele soal kinerja dan kedisiplinan. Apakah keadaannya akan lebih baik jika mereka bekerja dari rumahnya sendiri? Itu loh antara lain rintangan paling besar kenapa WFH tidak bisa dijalankan. Bagaimanapun juga, perusahaan tidak akan mengambil resiko sebesar itu.

Bukan berarti hal itu tidak mungkin. Mungkin saja kok. Tetapi jelas sekali bahwa kebijakan WFH ini tidak bisa diberlakukan secara umum. Hanya karyawan-karyawan yang mempunyai ‘kualifikasi’ tertentu saja yang bisa diberi kepercayaan itu. Dan jumlah karyawan yang seperti itu hanya sedikit sekali. The Wall Street Journal misalnya pernah mempublikasikan artikel yang menjelaskan bahwa pada tahun 2010 di US, ada sekitar 6,6% professional yang bekerja dari rumah. Angka itu sudah termasuk para self-employed.

Jadi di Negara maju pun masih sedikit orang yang dinilai pantas untuk bekerja dari rumah. Apalagi di Negara yang karyawannya doyan demo seperti negeri kita ini kan? Meski begitu, tidak berarti kita tidak bisa loh. Jika kita memenuhi kualifikasi orang yang langka itu kan oke juga. Lagian, bagus juga kan kalau kita menjadi professional yang lebih baik dari orang lain. Meskipun tidak menjalani WFH, tetap saja kita dinilai sebagai karyawan yang unggul. Kalau mau unggul seperti itu, beberapa kualifikasi berikut ini mesti kita miliki.

Pertama, integritas diri. Nggak mudah kan menjaga integritas diri. Khususnya ketika tidak ada yang mengawasi. Kalau ada yang ngawasi mah mudah. Secara otomatis kita akan jujur, baik, dan berdedikasi. Tapi apakah kita bisa tetap menjaga kejujuran kebaikan dan dedikasi itu jika bekerja sendiri? Nggak semudah itu. Namun juga nggak sulit-sulit amat kok. Kalau kita percaya bahwa Tuhan senantiasa melihat setiap tindakan dan perbuatan kita. Maka kita tidak akan berani berbuat yang ‘aneh-aneh’ kan. Rasulullah menyebutnya sebagai sikap ‘Ihsan’. Yaitu kesadaran diri bahwa Allah selalu mengawasi. Hanya jika memiliki integritas diri yang tinggi saja kita bisa dipercaya kan?

Kedua, menjaga kinerja. Apapun pekerjaan kita, pasti dituntut untuk memberikan hasil kan? Nggak ada perusahaan yang nggak nuntut hasil. Karena dengan apa yang kita hasilkan itulah perusahaan punya kemampuan untuk membayar gaji. Jadi jangan sakit hati kalau ditanya hasil melulu. Jangan merasa diperbudak kalau dituntut untuk terus meningkatkan produktivitas. Namanya juga kerja kan? Kesadaran seperti ini penting. Supaya kita bisa memastikan bahwa buat perusahaan, kita ini berharga. Jika dikantor saja kinerja kita buruk, apalagi boleh kerja dari rumah kan? Maka mulai sekarang, pastikan bahwa setiap hari Anda bisa memberikan hasil atau kinerja bagus buat perusahaan.

Ketiga, sikap dan perilaku kerja. Kita semua dibayar untuk bekerja. Ukurannya bisa jam. Bisa jumlah atau nilai proyek. Bisa macam-macam. Kita menyebutnya KPI. Angka dan benda gampang menghitungnya. Kalau yang bukan angka dan benda, bagaimana mengukurnya? Tentu dari perilaku dan tingkah polah sehari-hari kan? Anda tidak mungkin dipercaya untuk WFH kalau sikap dan perilaku kerja selama dikantor masih belum bagus. Kalau sering telat masuk kantor misalnya. Mana cocok WFH? Kalau sering bikin masalah juga sama. Maka, penting bagi kita untuk membangun sikap dan menunjukkan perilaku kerja yang baik mulai sekarang.

Saya bisa mengerti jika Anda merasa semua itu sia-sia. Toh nggak bakal dikasih WFH kok sama kantor. Jadi ngapain mesti susah-susah begitu? Kerja nyantai ajalah. Iyya kan? Saya paham soal itu. Tapi, pernakah Anda membayangkan bahwa Anda tidak akan selamanya bekerja disitu? Akan tiba saatnya Anda harus berhenti dan tidak diterima lagi bekerja dimana pun. Meski Anda suka, tapi Anda bakal pensiun juga kan? Bisa langsung nyantai emang kalau pensiun? Maunya sih begitu. Nyatanya kan kita mesti terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ayolah. Begitu faktanya kan?

Sahabatku. Disaat kita harus berjuang sendiri itulah justru kita membutuhkan semua kualifikasi bagus yang kita bangun selama masih bekerja itu. Jika kita baru membangun semua kualifikasi itu tepat disaat pensiun, ya telat dong. Nggak bakal sempat lagi. Justru sekaranglah saatnya untuk mulai melatih diri. Supaya saat pensiun nanti, kita relatif bisa lebih siap dibandingkan dengan mereka yang lengah dan berleha-leha semasa masih kerja. Tentu saya tidak bisa menjamin hidup Anda bakal tetap baik-baik saja setelah tidak bekerja nanti. Tapi tetap lebih baik kan kalau sejak sekarang kita melatih diri agar bisa diandalkan saat harus bekerja dari rumah?

Anda boleh saja jika mengira saya cuman omong teori doang. Tapi izinkan saya untuk menyampaikan kepada Anda bahwa saat ini; saya bekerja dari rumah. Namun harus saya akui bahwa itu tidaklah mudah. Sekalipun demikian, keberanian saya untuk melakukannya dimulai dari persiapan sejak masih bekerja sebagai seorang professional. Sewaktu masih menjadi karyawan seperti Anda, saya memang sudah meniatkan untuk bekerja bersungguh-sungguh meskipun tidak diawasi terus oleh atasan. Karena saya percaya bahwa; apa yang saya kerjakan hari ini, akan menjadi bekal saya dikemudian hari. Dan saya percaya bahwa apa yang Anda kerjakan hari ini, akan menjadi bekal Anda juga dikemudian hari.

Jadi, sebenarnya tidak penting apakah kantor kita akan memberi kesempatan WFH atau tidak. Yang penting itu adalah apakah kita memiliki kemampuan untuk WFH atau tidak. Sebab, cepat atau lambat; kita akan dihadapkan pada kenyataan hidup yang menuntut kita untuk WFH entah suka rela atau terpaksa. Ketika tidak ada lagi kantor yang mau mempekerjakan kita, keadaan akan tetap baik-baik saja. Kalau kita sudah menyiapkan diri untuk bisa WFH. Anda sudah siap melakukannya? Jika belum. Mari belajar dan mempersiapkan diri; sekarang juga.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 29 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

F#01: Jika Pasangan Sama-Sama Bekerja

F#01: Jika Pasangan Sama-Sama Bekerja

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Sekarang mah sudah lazim kalau pasangan suami istri sama-sama bekerja kan? Kalau laki-laki sih memang sejak zaman purba bertugas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perempuan, pada awalnya bekerja karena dipaksa oleh keadaan. Misalnya karena penghasilan suaminya tidak mencukupi. Namun sekarang, banyak perempuan bekerja bukan karena tuntutan nafkah semata. Ketika nafkah sudah terpenuhi, ada kebutuhan lain yang sifatnya lebih pribadi. Tak masalah kan sebenarnya. Tapi, ketika sudah punya anak; apakah keadaannya masih sesederhana sebelumnya?

Ketika baru menikah dulu, saya dan istri sama-sama bekerja. Saya bekerja di Jakarta. Istri di Bandung. Kami sama-sama punya peluang yang cukup besar dalam karir. Ada suka dukanya tentu saja. Dan sejauh itu sih bisa dijalani dengan saling pengertian dan pemahaman. Tak ada masalah berarti jadinya. Namun cara pandang kami berubah ketika istri saya hamil. Sejak saat itu, keadaan tidak seperti sebelumnya lagi.

Situasi itu bukan hanya kami yang mengalami. Boleh jadi, Anda juga kan? Saya percaya, semua pasangan bekerja yang dianugerahi bayi mungil buah cintanya tentu menghadapi dilema yang sama. Tapi keputusan kita mungkin berbeda. Ada yang memutuskan untuk terus bekerja. Dan ada pula yang memilih berhenti salah satunya. Tentu, setiap pilihan keputusan itu memiliki konsekuensinya masing-masing.

Pasangan yang memilih berhenti salah satunya mesti berhadapan dengan kemungkinan kalau inkam mereka berkurang. Bagaimana pun juga, tidak mudah menyesuaikan arus kas keluarga ‘double gardan’ yang berubah menjadi ‘single gardan’ kan. Belum lagi memikirkan kelahiran si kecil nanti. Pasti akan lebih banyak biaya yang dibutuhkan. Kadang-kadang situasinya juga tidak sesederhana itu. Terlebih lagi jika karir sang istri sedang moncer. Sungguh sayang banget kan kalau ditinggalkan. Makanya, banyak pasangan yang memilih untuk meneruskan karir berdua.

Selesaikah urusannya jika keduanya meneruskan untuk tetap berkarir? Tentu tidak. Karena tantangan lain pun bermunculan. Sebagai seorang lelaki, saya pribadi sering sangat kagum kepada ibu-ibu hamil yang tetap gigih berjuang dalam karirnya. Para lelaki yang secara fisik tidak pernah mengalami ‘interupsi’ pun tidak selamanya nyaman dengan pekerjaan. Kadang-kadang merasa berat juga. Kadang-kadang rasanya memang tidak berat sih, tapi ‘berat banget’ kan. Berat secara fisik maupun mental. Bagaimana pula rasanya jika kehidupan kerja ini dijalani oleh para perempuan hamil? Tidak bisa dibayangkan oleh kaum Adam.

Setelah sang bayi mungil lahir. Pasangan yang memilih menjadi ‘single gardan’ itu menghadapi masalahnya sendiri. Sedangkan pasangan yang tetap ‘double gardan’ punya tantangan lainnya. Walhasil, kedua pilihan itu ada plus dan minusnya masing-masing deh. Dari pengalaman hidup kita sendiri. Dan dari mengamati pasangan lain. Kita bisa lebih memahami bahwa yang paling penting itu bukanlah soal keputusan mana yang kita pilih. Apakah terus berkarya berdua. Atau salah satu saja. Bukan soal itu. Yang paling penting dan paling berat adalah; “Apakah kita bisa konsisten menerima konsekuensi atas pilihan keputusan yang kita ambil bersama itu atau tidak.”

Ketidaksiapan menghadapi konsekuensi itu berpotensi menjadi biang kerok percekcokan dengan pasangan. Baik yang menjadi single gardan, atau pun yang double; sama-sama punya peluang mengalaminya. Jadi, keputusan mana saja yang kita pilih sebenarnya tidak ada yang sempurna. Masing-masing ada lebihnya, sekaligus kurangnya juga. Masalahnya, manusia seperti kita; sering hanya mau menerima kelebihannya saja. Dan cenderung menolak kekurangannya. Padahal, kita tahu bahwa kekurangan dan kelebihan itu merupakan satu paket yang tidak terpisahkan.

Pasangan yang memutuskan salah satu berhenti bekerja, bisa berhasil. Bisa juga gagal. Banyak kok contoh pasangan yang kita lihat berhasil hanya dengan salah satunya saja yang bekerja kan. Mereka berhasil karena konsisten menerima konsekuensi atas keputusan yang mereka ambil. Benar sih, ada juga pasangan yang gagal. Mereka gagal, karena sering goyah ketika menghadapi konsekuensi tidak menyenangkan yang ditimbulkan dari keputusan itu.

Begitu pula pasangan yang memutuskan salah satu berhenti bekerja. Bisa berhasil. Bisa juga gagal. Banyak contoh yang mewakili keduanya disekitar kita kan? Keberhasilan mereka didapat dari konsistensi mereka dalam menerima konsekuensi atas keputusan yang mereka ambil. Dan kegagalan mereka, timbul karena mereka sering goyah ketika menghadapi konsekuensi tidak menyenangkan yang ditimbulkan dari keputusan itu.

Jika demikian, kunci keberhasilannya tidak terletak kepada keputusan yang kita ambil itu ya. Melainkan kepada komitmen kita dalam menjalaninya. Dan konsistensi kita dalam menghadapi konsekuensi yang ditimbulkannya. Hal ini menjadi kabar baik bagi setiap pasangan yang sama-sama bekerja. Kabar baiknya adalah; apapun keputusan yang kita ambil, baik adanya. Jadi, tidak tidak perlu lagi menyesali keputusan yang sudah dibuat dimasa lalu. Karena yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani dan menghadapi konsekuensinya.

Bagaimana jika kita tidak sanggup lagi menerima konsekensinya? Menyesali keputusan itu tetap bukanlah pilihan terbaiknya. Lebih baik kita lakukan revisi saja. Mumpung kita masih memiliki kesempatan sekarang. Memang, mungkin sudah agak terlambat sih. Tetapi, jika revisi keputusan itu bisa membuat masa depan kita lebih baik; mengapa membiarkan diri terikat dengan keputusan masa lalu yang kita sudah tahu jika itu keliru. Meskipun terlambat. Tapi masih ada waktu. Untuk memperbaiki keadaan yang terjadi karena kekeliruan yang kita buat dimasa lalu. Anda setuju?

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 30 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Pola pikir long weekend

Kemana Anda pergi di long weekend ini? Tentu ada ‘belanja ekstra’ kan? Mau gimana lagi ya, soalnya nggak bisa dihindari kalau sudah jadi kebiasaan mah kan.

Tidak etis jika saya bertanya berapa uang yang Anda belanjakan. Lebih baik kalau kita mengingat ulang, kemana uang itu berpindah tangan? Asalnya kan ada di dompet kita. Sekarang sudah hijrah ke brangkas orang lain.

Ternyata, bukan hanya energi loh yang terikat hukum kekekalan. Kayaknya uang juga sama. Jumlah uang tidak pernah berkurang kok. Hanya pindah saja, dari dompet para consumer ke dompet para producer.

Mungkin itulah dasar munculnya istilah ‘konsumen’ dan ‘produsen’. Ketika kebanyakan orang berbelanja, ada sejumlah orang yang ‘menampung’ uang belanjaannya. Padahal, ini hari libur loh. Kita berbelanja, mereka berproduksi dengan barang atau jasa.

Benar sih, semua orang perlu belanja pastinya. Toh mereka yang berproduksi pun belanja juga kan?

Iyya. Tapi, ada bedanya. Terlebih jika kita belanja dengan uang plastik yang akan dicicil di tanggal gajian, dibandingkan dengan mereka yang belanja dengan uang yang memang sudah ada di rekeningnya.

Kok bisa beda sih? Beda dong. Karena, para konsumer seperti kita belanja dulu baru menghasilkan uang untuk menutup tagihan belanjaan.

Sedangkan para produsen seperti mereka menghasilkan pendapatan terlebih dahulu baru membelanjakannya sebagian.

Cara hidup kita berbeda. Karena pola pikir dan sikap mental kita berbeda. Bisa dibayangkan nggak, jika kita mampu mengubah pola pikir dan sikap mental kita selama ini? Mungkin cara hidup kita juga berubah kali ya.

Hal ini berlaku pada semua aspek kehidupan kita. Karena hidup kita sangat ditentukan oleh cara kita menjalaninya. Dan cara kita menjalani hidup ditentukan oleh cara berpikir dan sikap mental kita.

Tahun ini kantor Anda mengadakan training kan ya? Berani mengusulkan
untuk mengundang DEKA sebagai trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or
Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, Public Speaker