Monthly Archives: February 2014

Hari tua ?

Semua orang, pasti mengharapkan hari tuanya bisa hidup dengan penuh berkah. Cirinya hidup berkah itu antara lain; sehat walafiat, berkecukupan, dan keluarga rukun, serta dihargai oleh orang lain.

Kita ingin mendapatkan semua hal diatas bukan hanya sewaktu masih muda dan produktif saja. Kita pengen kalau sudah masuk usia senja, juga masih memilikinya.

Memang ada unsur ‘ketentuan’ Tuhan atas segala sesuatu yang kita alami. Namun ikhtiar pun punya peranan penting. Ikhtiar yang saya maksud bukan hanya sekedar olah raga atau menabung dan berinvestasi.

Ikhtiar yang saya maksudkan berkaitan dengan aspek-aspek yang ‘tidak kasat mata’. Tidak bisa dilihat oleh mata lahir kita. Dan tidak bisa didengar oleh telinga kiri dan kanan kita.

Banyak contoh nyata dalam kehidupan kita tentang orang yang menderita di masa tuanya, karena ketika masih muda dulu mereka sering membuat orang lain menderita.

Saya tidak tahu jika itu karma atau bukan. Yang jelas, setiap perbuatan kita; akibatnya akan kembali kepada kita. Entah itu perbuatan baik, atau perbuatan buruk.

Dikantor, misalnya. Kita berinteraksi dengan anak buah, atasan, atau teman. Kadang kita tidak sadar jika sudah menyakiti hati orang lain. Dengan kata, atau perbuatan kita.

Bahkan ada juga orang sedemikian arogannya. Mentang-mentang punya kedudukan tinggi, memperlakukan orang lain sesuka hati. Hati-hati loh. Akibat buruknya bisa kembali pada diri sendiri ketika tua nanti.

Kok bisa begitu? Bisa. Karena boleh jadi, anak buah yang kita tindas itu, kolega yang kita hina itu, pesuruh yang kita rendahkan itu; berdoa kepada Tuhan agar membalaskan perbuatan buruk yang diterimanya.

Maka diusia muda, mungkin saja kita berkuasa, kaya raya, sehat pula. Tapi dimasa tua; mungkin kita akan menderita. Akibat perbuatan kita dimasa muda.

Rasulullah telah mewanti-wanti kita soal doanya orang tertindas. Sabda beliau, orang tertindas itu doanya langsung sampai kehadapan Allah. Tidak ada penghalangnya. Sehingga peluang dikabulkannya lebih besar.

Oleh karena itu sahabatku. Mumpung kita masih muda, mari menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik dan berguna. Mumpung masih punya jabatan, mari memanusiakan anak buah kita. Mumpung masih punya pekerjaan, mari hargai kolega kita.

Supaya mereka rela mendoakan hal-hal baik untuk kita. Bukan malah mendoakan hal-hal jelek agar menimpa kita. Minimal mereka tidak menyimpan dendam atau kekesalan sama kita. Netral juga tak apa.

In sya Allah, hidup kita kelak kalau sudah tua; tidak akan dibebani oleh doa-doa buruk orang lain yang terluka hatinya oleh lidah, tangan, atau keputusan kita. Dan kita, menjalani hari tua yang tenang, tenteram, sehat sentosa. Semoga.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Anda bisa berkontribusi lebih tinggi. Rewardnya, Insya Allah akan menjadi milik Anda.

Para karyawan, pada umumnya merasa digaji kurang. Mereka merasa seharusnya dibayar lebih tinggi dari yang saat ini diterimanya.

Masalahnya, perusahaan tidak melihat keharusan yang sama kan? Kenapa? Karena perusahaan membayar berdasarkan kontribusi yang kita berikan.
Kontribusi itu apa sih sebenarnya? Saya jelaskan.

Saat Anda mengambil uang di mesin ATM, berapa sih jumlah maksimal yang boleh Anda ambil? Tentu tidak lebih dari saldo tabungan Anda kan?

Jika saldo kita 2 juta misalnya. Maka kita tidak bisa menarik uang di ATM lebih dari 2 juta kan? Kenapa? Karena kita hanya bisa menarik uang yang kita miliki disaldo tabungan.

Penarikan tunai kita itu seperti bayaran dari kantor. Sedangkan tabungan melambangkan kontribusi. Kita, tidak mungkin mendapatkan bayaran lebih banyak dari yang kita kontribusikan.

Kita suka bilang akan berkontribusi lebih tinggi jika digaji lebih tinggi. “Gaji tinggi dulu dong, baru gue tingkatin kontribusi”

Memangnya bisa menarik dulu uang dari mesin ATM baru kemudian menabung? Ya nggak kan. Aturan mainnya, nabung dulu; baru tarik tunai. Berkontribusi dulu, baru dibayar.

Jadi, jika ingin dibayar lebih tinggi mesti gimana? Sederhana aja sih; tunjukkan terlebih dahulu, bahwa Anda bisa berkontribusi lebih tinggi. Rewardnya, Insya Allah akan menjadi milik Anda.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

P#120: Bekerja Demi Uang, Atau Status Dan Penampilan?

P#120: Bekerja Demi Uang, Atau Status Dan Penampilan?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Nggak ada salahnya dong kalau kita bekerja demi uang. Kan memang kita butuh uang ya. Kalau bekerja tapi tidak menghasilkan uang mah apa artinya kan? Mending ngerjain hal lain yang kita sukai saja. Jadi, ayo teman-teman; kita bekerja demi mengejar uang.

Yeee, ajakan yang klise ya. Emangnya siapa yang bekerja bukan demi uang? Semua orang juga demikian ya? Sebentar dulu. Apakah Anda yakin jika Anda ini bekerja demi uang? Yakinkah Anda bahwa kebanyakan orang bekerja demi uang? Saya kok nggak begitu percaya ya kalau orang-orang itu pada bekerja demi uang. Setidaknya, begitulah hasil pengamatan saya.

Banyak orang bekerja dengan alasan mencari uang. Tapi kalau saya perhatikan; sebenarnya mereka tidak benar-benar bekerja demi mencari uang. Mereka sekedar mencari status dan penampilan keren doang. Mereka hanya merasa dirinya sedang ‘mengejar’ uang. Padahal, tidak.

Kenapa saya yakin soal itu? Karena begitu banyak orang yang punya kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak uang dari pekerjaannya, namun mereka tidak mengambil kesempatan itu. Mereka memilih bekerja standar saja. Makanya, uang yang mereka dapat pun ya standar juga.

Mereka tidak mau bekerja ‘extra miles’ meskipun tahu bahwa itu bisa memberi mereka peluang untuk mendapat lebih banyak uang. Mending kerja apa adanya saja meski pendapatannya pas-pasan. Ogah kalau mesti kerja lebih banyak, dan lebih berat.

Terbukti kan, sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh bekerja untuk mendapat uang. Sekedar status dan penampilan doang. Karena, kalau benar mengejar uang, pasti mau bekerja keras untuk meraihnya kan?

Bukti lain bahwa kita sering bekerja demi status dan penampilan adalah; kita nggak akan mau jadi tukang gado-gado yang jualan dipinggir jalan. Iiiiih malu-maluin banget deh. Tukang gado-gado? Amit-amit. Please dweeeh! Padahal, uang yang kita dapatkan setiap bulan; belum tentu lebih banyak dari penjual gado-gado itu loh.

Think. Jangan-jangan kita ini bekerja cuman pengen keren doang. Keluar masuk gedung mentereng yang menjulang. Punya kartu nama yang bisa dibangga-banggakan. Tapi penghasilan, sungguh sangat pas-pasan.

Mungkin Anda meragukan uraian saya. Baiklah jika demikian. Berapa sekarang gaji Anda sebulan?. Bagi angka itu dengan 22 hari kerja. Itulah ‘bayaran’ yang Anda dapatkan kalau dihitung harian.

Sekarang perhatikan hasil kalkulasi saya atas pendapatan seorang tukang gado-gado. Ini beneran. Bukan hayalan. Saya mengenalnya. Dan saya, suka menikmati gado-gado buatannya. Setiap hari, dia bisa menjual sekitar 100 porsi. Harga per porsinya 10 ribu. Jadi dalam sehari; penghasilannya 100 dikali 10,000. Satu juta rupiah bukan. Angka 1 diikuti oleh 000,000.- per hari.

Pendapatan harian Anda dari pekerjaan itu sudah sama dengan itu atau nggak? Oh, mau dihitung bulanan? Ya tinggal dikalikan saja 26. Soalnya dalam sebulan dia hanya libur seminggu sekali. Dua puluh enam juta rupiah, bukan? Nah loh…

“Tapi kan itu omset kotor, Dadaaaaang!. Bersihnya nggak segitu kale….”
Well Anda benar. Tapi bukankah gaji bulanan yang Anda bilang ‘gaji bersih’ itu juga masih harus dipotong dengan ongkos, dan uang makan yang setiap hari Anda perlukan saat bekerja? Nggak benar-benar ‘bersih’ kan yang ditransfer ke rekening tiap bulan itu?.

Anggap saja untungnya tukang gado-gado itu 35%. Maka penghasilan bersihnya sebulan tidak kurang dari 10 juta. Penghasilan bersih Anda setelah dipotong ongkos dan makan siang, berapa? Teng ting teng…….

Gak apa-apa lah. Kita masih bisa kerja di ruang ber-AC, dan berdasi pula. Kalau ditanya ‘kerja dimana’ bisa dijawab dengan bangga. Well, jika demikian, benar dugaan saya dong. Kita, bekerja demi status dan penampilan. Bukan demi uang.

O-ow. Tunggu dulu. Tolong jangan salah sangka. Saya tidak sedang memprovokasi Anda untuk berhenti bekerja lalu ganti profesi menjadi tukang gado-gado. Bukan itu maksud saya. Bagini.

Di kantor itu, Anda punya kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Minimal samalah dengan pendapatan bulanan tukang gado-gado itu. Sudah bisa belum meraih sebanyak itu?

Jika belum; maka Anda mesti bekerja lebih baik dari itu. Anda mesti berhasil mendapatkan kepercayaan atau berkontribusi lebih besar. Supaya bisa mendapatkan bayaran yang lebih besar.

Untuk itu, Anda tidak cukup hanya bekerja dengan cara-cara standar. Anda mesti lebih kreatif. Lebih gigih. Lebih beredikasi. Meskipun semua itu menuntut Anda untuk mengorbankan kenyamanan.

Jika alasan Anda bekerja itu benar-benar untuk mendapatkan uang, maka jangan tanggung-tanggung dong kerjanya. Mari berjuang lebih giat lagi kawan. Supaya bisa mengoptimalkan peluang pendapatan yang terbentang luas dikantor kita.

Jika status dan penampilan mentereng kita sudah diimbangi dengan penghasilan yang signifikan, naaah itu baru keren beneran namanya. Kalau cuman tongkrongan doang yang keren, padahal dompet lepet bin kere? Yaaaa lebih hebatan tukang gado-gado itu dong.

Meski penampilannya sederhana; tapi penghasilannya lebih besar dari kita. Kenapa? Karena dia benar-benar bekerja mengejar uang. Sedangkan kita, ngakunya aja bekerja demi uang. Tapi sikap dan perilaku kerja kita, tidak memperlihatkan bahwa kita memang layak untuk mendapatkan lebih banyak uang.

Anda bersungguh-sungguh bekerja demi mengejar uang? Jika demikian, mari tinggalkan kebiasaan dan cara kerja yang biasa-biasa saja. Dan mulai sekarang, niatkan dan tunjukkan kegigihan dan kedisiplinan serta dedikasi yang tinggi selama menjalani hari-hari kerja itu.

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 08 February 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D