P#175: The Rise Of Manusia Sampah

P#175: The Rise Of Manusia Sampah
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sampah. Kosa kata yang berkonotasi kotor dan rendah. Punya pengertian harfiah. Dan makna kiasan. Secara harfiah, sampah ya sampah. Sisa yang mesti dibuang. Bahkan organ pencernaan kita pun menyisakan sampah. Lalu dibuang, supaya tubuh tetap sehat.
 
Secara kiasan, sampah menunjukkan betapa hinanya seseorang. Maka jika ada manusia sampah, itu bisa bermakna sebenarnya. Bisa berarti kiasan. Bisa juga kedua-duanya sekalian.
 
Setiap pagi di jalur perlintasan harian saya melewati beberapa tumpukkan sampah. Hanya perlu satu orang untuk memulai tumpukan itu. Dia, membungkus sampah dari rumah dengan kantong plastik. Rapi sekali.
 
Lalu dia mengaitkan kantong berisi sampah itu dimotornya. Kemudian, dia berangkat ke kantor. Di perjalanan, dia melihat ada tanah kosong dipinggir jalan. Pertama dia celingak-celinguk. Kedua melemparkan bungkusan. Ketiga, buru-buru meneruskan perjalanan.
 
Besoknya, dia melakukan hal yang sama. Dan perilaku buruknya dilihat oleh orang lain. Orang yang melihatnya jadi tahu bagaimana mengatasi masalah sampah. Maka keesokan harinya sudah ada 2 manusia sampah.
 
Lalu ada 2 orang lain lagi yang melihatnya. Manusia sampah pun menjadi 4 orang. Besoknya sudah ada 8 manusia sampah. Sekarang, bahkan ada yang mengendarai mobil. Berikutnya, manusia sampah sudah 16 jumlahnya. Sampah pun menggunung sudah.
 
Sampah tidak selalu berupa benda fisik. Seringnya hanya berupa kata-kata saja. Manusia sampahnya tidak melemparkan bungkusan. Namun melontarkan kata-kata tak berguna. Bayangkan jika kita membiarkan telinga mendengar kata-kata sampah mereka. Maka jiwa kita, akan ditutupi tumpukan sampah pula.
 
Orang yang punya tanah marah. Namun manusia sampah itu tak hirau. Walau sudah berulangkali dihalau. Manusia sampah, tetap betah dengan perilaku sampahnya. Sang pemilik tanah paham bahwa marah-marahnya jadi percumah. Kemudian dia membangun benteng tinggi. Sehingga membuang sampah kedalamnya kini tidak mungkin lagi. Maka manusia sampah pun pada pergi. Mungkin mencari lahan lain yang tidak dilindungi.
 
Jiwa kita, jika tidak dijaga; bakal dibanjiri sampah. Dari orang-orang yang melintas dijalan hidup kita. Via bbm, lewat facebook, melalui email, dikantor, dikafe, dimana saja. Mereka melemparkan sampahnya. Dan karena tidak dijaga, sampah itu menumpuk dijiwa kita.
 
Lahan jiwa ini mesti kita pagari. Dijaga dengan gigih. Agar sampah dari manusia sampah tidak menodai. Agar hati dan pikiran kita tetap bening. Bersih. Lagi murni.
 
Masalahnya adalah, banyak tumpukan sampah dibuat bukan oleh manusia sampah yang mengembara. Sang pemilik tanah sendirilah yang menjadi manusia sampahnya. Ketika ada orang yang mengingatkan dirinya, dia pun menjawab;”Ini tanah saya sendiri. Suka-suka saya kalau mau membuang sampah disini….”
 
Bayangkan jika kita sendirilah yang mengotori jiwa ini. Dengan sikap yang buruk. Dengan kata-kata yang busuk. Dengan perilaku terkutuk. Dan ketika ada orang yang menasihati, kita bilang;”Nggak usah ikut campur. Ini urusanku sendiri.” Tentu cepat atau lambat, jiwa kita akan diliputi tumpukan sampah. Dan kita, menjadi manusia sampah.
 
Bukan tidak boleh membuang sampah. Namun mesti pada tempatnya. Baik sampah sebenarnya, maupun sampah kiasannya. “Kebersihan itu sebagian dari iman,” demikian nasihat Rasulullah. Dan “Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya,” demikian firman Allah.
 
Jadi, barangsiapa membuang sampah sembarangan; maka dia telah melanggar ajaran Rasulullah. Dia telah mengingkari firman Allah. Dan dia, telah menjadikan dirinya manusia sampah.
 
Tapi kan sebagai manusia kita ada khilaf dan salah. Dan kita juga tidak selalu bisa menghindari interaksi dengan manusia sampah. Iyya. Makanya, kita perlu terus membersihkan diri. Berteman dengan orang-orang baik. Dan sesekali, mengikuti pelatihan yang baik. Jika kantor Anda membutuhkan bantuan, silakan hubungi saya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman 29 Oktober 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan kaki:
Kalau orang lain membuang sampah dilahan kita, bisa kita larang dia. Tapi kalau kita sendiri yang membuang sampah itu, siapa yang bisa menghalangi? Kalau orang lain melontarkan hal-hal kotor kedalam jiwa kita, bisa kita halau dia. Tapi kalau kita sendiri yang mengotorinya, siapa yang bisa menghalangi?
 
Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personal Development)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Perlu Training 2 Jam Di Kantor Anda
Call DeKa @ 0812 19899 737 or
Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *