Monthly Archives: February 2017

Pilkada 2017 yang Fenomenal

Apa kabar saudara ?

Well…., kita lihat sekarang ini betapa masifnya pemberitaan di media massa terutama media sosial yang membawa begitu banyak perubahan terutama opini masyarakat tentang berbagai persoalan, termasuk Pilkada 2017.

Menarik untuk dicermati saat ini, Indonesia memiliki keunikan dengan suku bangsanya, sehingga corak dan perbedaan tentu membawa dinamika yang cukup tinggi.

Sebagai bagian dari masyarakat, saya ingin berkontribusi dalam berpendapat terhadap hiruk pikuknya pesta demokrasi ini. Bukan bermaksud untuk menggurui apalagi memaksakan suatu pandangan dan opini, tetapi lebih kepada mencegah bagaimana jika persoalan ini semakin berlarut dan berpotensi memecahkan persatuan dan kesatuan.

Yang pertama, sebagai umat beragama, tentu saja Indonesia yang berasaskan sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kebebasan umatnya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya sesuai dengan pilihan dan keyakinannya. Terlepas dari saat ini betapa isu ini menjadi begitu hebat membawa perubahan cara pandang seseorang baik terhadap kehidupan sehari-hari maupun kehidupan politiknya.

Bagi yang menyadari politik suatu kebijakan yang dapat mempengaruhi sebagai besar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tatanan kenegaraan, maka masyarakat dilibatkan dalam proses ini dalam suatu pemilu dengan asas Luber dan Jurdil. Penggiringan opini terhadap suatu calon yang merupakan wakil dan bahkan memilih pemimpin menjadi senjata utama dalam mencari dukungan. Tidak salah, karena prinsipnya sales  selalu ada dalam lingkungan kita.

Jika kembali ke belakang melihat sejarah, wakil rakyat di parlemen cukup untuk menentukan pemimpin politik, kali ini tidak demikian. Bahkan suara 1 orang saja hakikatnya akan sangat menentukan, terlepas dari latar belakang, pendidikan, pengetahuan, profesi dan sebagainya. Lantas bagaimana pendidikan politik Indonesia saat ini ? apakah sudah cukup dewasa dalam memilih, apakah sudah cukup pengetahuan dalam memilih atau bahkan kebebasan dalam memilih sudah benar-benar dapat dilaksanakan sungguh-sungguh tanpa intervensi. Bahkan dalam satu keluarga saja tidak boleh ada intervensi karena hak memilih adalah hak pribadi, meskipun secara etika dan moral memilih yang lebih dikenal tentu akan lebih mudah ketimbang memilih yang tidak dikenal, artinya dalam satu keluarga menjadi hilang makna kebebasan dan rahasia karena sudah tentu sewajarnya keluarga mendukung keluarganya sendiri. Jadi menjadi suatu kewajaran pula menurut saya kita memilih yang satu golongan dengan kita saja, karena fitrahnya memang demikian, cobalah lihat ketika dalam perantauan kita akan senang bertemu dengan seperantauan karena merasa senasib sepenanggungan.

Saya bertanya kepada Anda, bagaimana pandangan Anda terhadap saudara yang tidak memilih Anda sebagai wakil rakyat padahal Anda cukup baik terhadapnya ? Apakah tidak ada yang salah pada diri Anda ? Apa yang harus diperbaiki, bisa sikap, perilaku atau sebagainya. Atau Anda memang sudah cukup baik bahkan teramat baik, tapi tetap saja persepsi orang tidak pernah semuanya sama.

Akhirnya, dalam pesta demokrasi kali ini, saya mengajak untuk saudara-saudara taatilah asas asas pemilu yaitu Langsung, Umum Bebas dan Rahasia dengan tidak lupa berlaku jujur dan adil. InsyaAllah integritas dan hasilnya akan mendapat dukungan yang kuat.

Hidup Indonesia, demi masa depan yang lebih baik.