Blog Archives

S#66: Kekayaan Versus Kecukupan

S#66: Kekayaan Versus Kecukupan
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Para penasihat kemakmuran menyatakan; “Jika Anda tidak memiliki keinginan untuk kaya, maka Anda tidak akan bisa kaya.” Indikasinya bisa dilihat dari doa yang kita panjatkan. Karena doa merupakan manifestasi dari keinginan, maka jika menginginkan sesuatu; kita berdoa kan ya. Dalam doa-doa yang dipanjatkan, biasanya Anda meminta kekayaan, ataukah kecukupan?  Saya lebih sering berdoa meminta kecukupan. Mungkin itu sebabnya sampai saat ini saya belum kaya juga kali ya.
 
Dulu ketika masih remaja, saya ingin sekali kaya. Setelah dewasa, keinginan untuk mendapatkan kecukupan menjadi lebih dominan. Belum jelas benar apa yang menjadi penyebabnya. Sisi idealis bisa dijadikan kambing hitam. Kabarnya, orang idealis itu jarang yang kaya ya? Ah, mungkin kaum idealis yang tidak kaya saja yang bilang begitu kan.
 
Bukan karena idealis kalau saya tidak kaya juga. Namun karena ikhtiar saya berbeda dengan mereka yang berhasil menjadi kaya. Itu jelas sekali. Karena, kalau dari ikhitar ini menghasilkan banyak kekayaan, masak sih bakal ditolak? Ikhitiar kita, dipengaruhi oleh ‘Drive’ atau daya dorong dari dalam diri kita. Jika daya dorongnya kuat, maka orang bakal menempuh jalan seberat dan seterjal apapun untuk mendapatkan kekayaan. Yang memalukan juga tidak soal. Efek sampingnya, cara apapun bisa ditempuh.
 
Orang yang berorientasi pada kecukupan, biasanya drivenya tidak sekuat yang berorientasi pada kekayaan. Begitu merasa cukup, ya sudah nggak ngoyo. Masih sempat milih-milih. Menjauhi sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya, meskipun hal itu menjanjikan kekayaan. Efek sampingnya, sering menggunakan kedok ‘kesabaran’ dan ‘kesyukuran’ meskipun dalam ‘kecukupan’ itu sebenarnya merasakan banyak kekurangan.
 
Yang namanya ‘kekurangan’, tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tidak kaya loh. Sudah  kaya pun banyak yang terkena sindrom ‘kekurangan’. Sudah serba ada, masih kurang saja rasanya. Ini bagus jika diikuti dengan akhlak positif sehingga akan meningkatkan drive untuk lebih gigih lagi ikhtiarnya. Namun, jadi sangat buruk jika hawa nafsu mendorongnya mengeksplorasi efek samping berupa sifat rakus dan serakah.
 
Kalau boleh melakukan pengakuan, maka saya ingin mengaku bahwa saya sering merasa iri kepada orang kaya yang jujur dan baik hati. Saya juga sering iri kepada orang tidak kaya yang tetap istikomah dengan kejujuran dan pandai mengelola pendapatan hingga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
 
Mereka adalah 2 jenis manusia yang dicukupkan Allah. Ketika kaya, mereka merasa berkecukupan sehingga tidak tergoda untuk menghalalkan segala cara demi memuaskan dahaga hedonismenya. Ketika tidak kaya, mereka merasa berkecukupan sehingga tidak tertarik untuk melakukan tindakan tercela demi menutupi kebutuhan hidupnya.
 
Saya, ingin menjadi pribadi yang berkecukupan seperti mereka. Terlepas dari apakah kelak saya menjadi orang kaya, atau menjadi orang yang tidak kaya. Selama Allah memampukan saya untuk menjadi orang berkecukupan, maka dunia; tidak akan lagi perlu dikhawatirkan.
 
Meeting tahunan dikantor Anda bisa dilengkapi dengan training 2 jam. Hubungi saya di 081219899737 untuk mendiskusikannya.
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman 5 September 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan kaki:
Kecukupan lebih penting daripada kekayaan. Karena kekayaan hanya bisa menjadi baik bagi orang yang merasa cukup. Dan kekurangan, tidak akan menyakiti orang-orang yang memiliki kecukupan. Jadi, kaya dan tidak kaya tidak lagi penting selama kita memiliki kecukupan.  
 
Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “S (=Spiritualism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
 
Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

P#142: Biar Berhasil Saat Wawancara Kerja

P#142: Biar Berhasil Saat Wawancara Kerja
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Saya, jarang menyarankan seseorang untuk pindah kerja. Karena, saya percaya bahwa dimanapun kita bekerja; peluang suksesnya relatif sama, masalahnya kira-kira sama, tantangannya juga hampir sama. Namun, ada situasi-situasi tertentu dimana seseorang saya sarankan untuk pindah kerja. Misalnya, ketika perusahaannya menindas, atau dia diperlakukan secara tidak senonoh disana. Anda, mungkin ingin pindah kerja juga ya. Dengan alasan sendiri. Tak masalah, karena setiap orang berhak melakukannya. Saya dukung saja jika maunya demikian. Sekarang, ijinkan saya untuk membekali Anda, dengan 5 aspek yang perlu diperhatikan saat menjalani wawancara. Sehingga keinginan Anda untuk pindah kerja ke perusahaan yang lebih baik itu bisa terwujud.
 
Pertama, membangun kredibilitas pribadi yang tinggi.Kredibilitas itu apa sih? Kredibilitas itu adalah kualitas pribadi yang bisa diterima dan dipercaya. Ini tentang apa kemampuan Anda, dan apa saja pencapaian yang sudah berhasil Anda buat dimasa lalu. Jika Anda mimiliki kredibilitas yang tinggi, maka dengan sendirinya Anda akan diterima ditempat yang baru tanpa keraguan. Gampang mendapatkan perkejaan yang Anda incar itu. Lalu bagaimana cara membangun kredibilitas? Mudah. Ditempat kerja Anda yang sekarang, Anda harus menunjukkan dedikasi yang tinggi, prestasi yang tinggi, dan reputasi diri yang tinggi. Kenapa? Karena dalam wawancara kerja itu, Anda pasti akan ditanya tentang apa saja pencapaian yang sudah Anda raih ditempat kerja saat ini.
 
Kedua, keseimbangan mental dan pengelolaan perasaaan. Maksudnya begini. Anda kan kepengen banget mendapatkan pekerjaan itu. Tapi, kalau Anda kelihatan banget butuhnya, maka si pewawancara tahu bahwa nilai tawar Anda menjadi rendah. Anda mesti menjaga, jangan sampai kepengen bangetnya Anda kerja disitu itu kentara banget. Tetapi, Anda juga harus menunjukkan keinginan itu. Karena, kalau Anda terkesan ‘kurang berminat’ juga bisa menyebabkan pewawancara berpikir ‘ini orang serius mau kerja disini atau tidak sih?’. Jadi mesti seimbang. Dengan demikian, Anda mengirimkan sinyal kepada si pewawancara bahwa Anda siap untuk menjadi tulang punggung perusahaan. Namun, Anda juga tidak akan rugi apa-apa jika mereka tidak menerima Anda. Justru merekalah yang rugi jika tidak merekrut Anda.
 
Ketiga, tunjukkan bahwa Anda memahami perusahaan itu. Pengetahuan Anda terhadap perusahaan yang Anda incar menunjukkan seberapa pedulinya Anda kepada mereka. Cari informasi mengenai sejarah perusahaan, visi-misi, dan produk unggulan mereka. Lalu – tolong perhatikan hal ini – lalu, pikirkan bagaimana strategy Anda untuk membuat perusahaan itu lebih bagus, kinerja produk unggulannya menjadi semakin membaik, atau apa saja yang Anda rencanakan untuk mengembangkan bisnis perusahaan itu. Pikirkan plan of action yang benar-benar menarik dan bisa membantu perusahaan itu menjadi lebih baik sejak kehadiran Anda disana. Ini loh, yang akan membuat pewawancara kesengsrem pada Anda. Mengapa? Karena mereka mencari seseorang yang bisa membuat kinerja perusahaan lebih baik.
 
Keempat, siapkan diri untuk diwawancara dalam bahasa Inggris. Kalau Anda menjalani wawancara untuk pekerjaan dengan gaji tinggi, maka Anda wajib menyiapkan diri untuk wawancara dalam bahasa Inggris. Kenapa? Karena, gaji tinggi menunjukkan posisi yang cukup signifikan. Sedangkan bahasa Inggris adalah bahasa universal dalam bisnis. Jika ditengah wawancara sang interviewer tiba-tiba mengubah bicaranya dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris; kan enak menjawabnya kalau Anda sudah siap. Kalau Anda tidak siap? Rasakan sendiri deh keringat panas dinginnya. Kecuali kalau pekerjaan yang Anda incar itu gajinya biasa-biasa saja. Tapi, ngapain sih Anda kok pindah kerja segala kalau gaji barunya cuman segitu-gitu aja? Incar pekerjaan baru yang bergaji tinggi dong. Belum bisa bahasa Inggris? Belajar. Sekarang.  
 
Kelima, ajukan pertanyaan yang bermutu. Dalam wawancara, selalu ada kesempatan bagi Anda untuk bertanya. Manfaatkanlah kesempatan itu untuk melontarkan pertanyaan yang bermutu. Banyak orang yang kalau interviewernya bilang; “Baiklah, wawancarannya sudah selesai, apakah ada yang ingin Anda tanyakan?” Lalu dia menjawab; “Tidak ada bu, terimakasih.” Saaalah BESAR. Kalau saya, biasanya langsung mencoret orang seperti itu. Kenapa? Karena sebuah pertanyaan menggiring kita kepada jawaban. Begitu banyak hal di perusahaan yang membutuhkan jawaban. Dan jawaban itu, hanya bisa diharapakan untuk datang dari orang-orang yang memiliki pertanyaan. Pikirkan, sebuah pertanyaan yang bermutu tentang perusahaan itu. Maka Anda, akan menarik perhatian sang pewawancara.
 
Saya yakin Anda sudah mempunyai strategi dan persiapan yang bagus untuk menjalani wawancara kerja ditempat yang baru. Ke-5 aspek yang saya uraikan diatas itu semoga semakin memperkaya kemampaun dan kesiapan Anda. Jadi, selamat menjalani wawancara kerja. Semoga Anda mendapatkan pekerjaan yang Anda impikan. Dan semoga saja, suatu saat nanti Anda dan saya – Dadang Kadarusman – bertemu diruang training di perusahaan itu. Kepana tidak kan? In sya Allah. Aamiin.
 
Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya?  Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 23 Mei 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Ada 3 jenis orang yang saya kenal. (A) Orang yang sudah pensiun namun masih bisa menghasilkan nafkah secara mandiri. (B) Orang yang memasuki Masa Persiapan Pensiun atau MPP yang gelisah karena belum tahu apa yang akan mereka lakukan setelah pensiun. (C) Manager yang terancam PHK, lalu bingung mesti bagaimana lagi supaya uang pesangonnya tetap bisa menghidupi keluarga. Jika Anda termasuk kelompok (B) atau (C); mungkin saya bisa mengenalkan Anda kepada (A) agar Anda bisa belajar dari mereka, bagaimana caranya supaya bisa mencari nafkah tanpa tergantung pada perusahaan lagi. Jika Anda berminat, silakan daftar ke dkadarusman@yahoo.com dengan subyek “Persiapan Pensiun”. Jika Anda tidak termasuk (B) atau (C), tolong tidak mendaftar ya.
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
 
Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Dare to invite Dadang to speak for your company
Call him @ 0812 19899 737 or
Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

[Dadang Kadarusman (DEKA) ] ~ Melayani Tapi Tidak Dilayani

Kita tidak selalu bisa menikmati hasil dari pekerjaan kita. Misalnya, kalau Anda bekerja sebagai sales mobil; belum tentu Anda bisa menikmati mobil itu kan.

Ah, itu kan karena harganya mahal sekali ya? Tapi saya pernah bertanya pada karyawan hotel;”Mas ini makanan masih banyak. Jadi nanti dibagikan ke karyawan ya?”

Jawabannya; “Tidak Pak. Kalau tidak habis, makanan ini dibuang.” Bahkan makanan sisa pun tidak bisa mereka cicipi.

Jadi ini bukan soal mahal atau murahnya harga produk kita, melainkan kenyataan bahwa kita sendiri tidak selalu bisa menikmati pelayanan yang kita berikan kepada orang lain.

Ada yang lebih ironis lagi. Orang-orang yang menjual produk kesehatan, misalnya. Ketika sakit, mereka tidak bisa mendapatkan obat bagus yang dijualnya.

Lantas, apakah kita mesti mengeluhkannya? Tidak. Percuma aja kan? Bikin hati tambah nyesek aja.

Bagaimana kalau kita menerima hal itu sebagai realitas hidup? Bisa begitu sih. Tapi cepat atau lambat, kita akan jengah juga.

Ada cara lainnya? Ada. Saya menyarankan ini. Setiap kali menjalankan pekerjaan untuk orang lain, katakanlah ini dalam hati Anda;”Ya Allah, untuk setiap pelayanan yang aku berikan bagi orang lain, semoga kelak anak cucuku menikmati pelayanan yang sama baiknya.”

Gantungkanlah harapan kepada Tuhan agar anak-cucu kita kelak memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita. Sehingga mereka bisa mendapatkan pelayanan yang saat ini belum bisa kita dapatkan.

Dengan begitu, maka kita mendapat 2 manfaat. Satu, tetep senang melayani orang lain meskipun saat ini kita belum mendapatkan pelayananan yang sama untuk diri kita sendiri.

Dua, kita akan selalu terdorong untuk memberikan pelayanan terbaik karena pelayanan seperti itulah yang kita minta pada Tuhan agar kelak diberikanNya pada anak cucu kita.

Bukankah kita menginginkan kehidupan yang lebih baik buat anak cucu kita? Iyya dong. Mungkin doa itu berguna juga kan. In sya Allah. Aamiin.

Tahun ini kantor Anda mengadakan training kan ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA sebagai trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker
Www.dadangkadarusman.com